nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pendapatan Anjlok 13,82%, Begini Upaya Krakatau Steel untuk Bangkit

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 01 Mei 2019 17:32 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 01 278 2050283 pendapatan-anjlok-13-82-begini-upaya-krakatau-steel-untuk-bangkit-7uEsikgcaT.jpg Foto: Okezone

JAKARTA - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk menandatangani kesepakatan transformasi bisnis dan keuangan dengan Himpunan Bank Negara (Himbara). Kesepakatan ini dilakukan sebagai inisiatif untuk perbaikan kondisi keuangan dan restrukturisasi utang.

Beberapa langkah transformasi bisnis yang akan dilakukan di antaranya penataan kembali utang perseroan, pelaksanaan operational excellence, divestasi kepemilikan saham perseroan pada anak perusahaan perseroan, penerbitan convertible bond, dan penerbitan saham baru (Rights Issue). Langkah ini telah mendapat persetujuan RUPS tanggal 26 April 2019 lalu.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menyatakan, akan memperbaiki keadaan ini segera dengan strategi transformasi bisnis dan keuangan yang saat ini sudah mulai berjalan.

“Kami harap dalam waktu dekat sudah mulai kelihatan hasilnya dan kondisi ini bisa berbalik menjadi lebih baik,” ujarnya, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (1/5/2019).

Baca Juga: Capai Rp317 Triliun, Bank Mandiri Mau Restrukturisasi Utang Krakatau Steel

Krakatau Steel saat ini pun sudah menyelesaikan 93,73% konstruksi fisik dari pabrik Hot Strip Mill #2 (HSM#2) per 31 Maret 2019. Pabrik ini diproyeksikan mampu memproduksi produk Hot Rolled Coil (HRC) sebanyak 1,5 juta ton per tahun sehingga dapat meningkatkan volume penjualan terutama untuk produk HRC. Pabrik ini direncanakan akan selesai pembangunannya pada kuartal-II 2019.

Asal tahu saja, Krakatau Steel mengalami penurunan pendapatan sebesar 13,82% year on year (YoY) pada periode kuartal I-2019 sebesar USD419 juta dibandingkan pendapatan kuartal I tahun 2018 sebesar USD486,2 juta. Hal ini akibat dari penurunan volume penjualan dan penurunan harga produk baja secara global.

Harga HRC per ton tertinggi tercapai USD755 di Januari 2019 dan terendah USD554 di bulan Maret 2019 walaupun secara keseluruhan harga HRC berkisar antara USD650 – USD700 pada kuartal I-2019.

Baca Juga: 'Bosan' Rugi, Begini Cara Krakatau Steel Meraup Untung

Walaupun secara umum terjadi penurunan volume penjualan 11,97% yoy menjadi 529.114 ton, termasuk di antaranya penurunan volume penjualan Cold Rolled Coil (CRC) 35,67% yoy menjadi sebesar 103.219 ton dan penurunan volume penjualan Wire Rod 77,30% yoy menjadi 8.644 ton, namun volume penjualan HRC meningkat 8,11% yoy sebesar 355.546 ton.

Fokus penjualan Krakatau Steel memang akan diprioritaskan pada produk HRC terlebih dengan akan segera beroperasinya HSM#2. Penurunan volume penjualan ini pun diiringi dengan penurunan harga jual produk termasuk HRC 2,24% yoy menjadi USD643 per ton dan Wire Rod 3,14% yoy menjadi USD612 per ton, namun tidak demikian dengan CRC yang meningkat 5,13% menjadi sebesar USD739 per ton.

Penurunan penjualan ini berpengaruh pada laba kotor sebesar USD11,75 juta, menurun dibanding periode sebelumnya sebesar USD66,79 juta. Sementara rugi operasi perseroan mencapai USD36,2 juta pada kuartal I-2019 dibanding dengan periode yang sama tahun lalu yang mencatat laba operasi USD21,2 juta. Penurunan kinerja operasi ini dipengaruhi oleh lebih tingginya biaya operasi selama periode berjalan.

“Kami akan terus menggenjot volume penjualan baja domestik diiringi peningkatan target untuk ekspor produk baja mulai tahun ini, terlebih Indonesia saat ini dapat dengan leluasa mengekspor produk baja ke Malaysia. Semoga peningkatan target eskpor ke beberapa negara dan kerja sama steel trading dengan beberapa rekanan dapat membantu menaikkan volume penjualan di tahun 2019 ini,” tambahnya.

Kondisi dan situasi pasar mulai kondusif dengan adanya peningkatan harga produk material baja di pasar masing-masing negara. Namun “Era Proteksionisme” global pada industri baja saat ini menjadi sebuah tantangan tersendiri yang juga harus dihadapi. “Dengan kebijakan perdagangan yang mulai berpihak pada pasar domestik dan dengan adanya peningkatan pendapatan Anak Perusahaan maupun afiliasi setelah restrukturisasi Anak Perusahaan Perseroan, maka kami yakin kondisi ini akan berangsur pulih dan kami dapat kembali memperbaiki kinerja kami,” pungkas Silmy.

Sebagai catatan, dari Januari hingga Desember 2018, permintaan produk baja di Indonesia cenderung meningkat dengan adanya peningkatan di sektor industri yang menggunakan material baja. Diantaranya sektor otomotif yang meningkat 7.99% dengan jumlah produksi mobil sebesar 1.152.641 unit per tahun (Gaikindo, Januari 2019). Hal ini diikuti dengan sektor konstruksi dan infrastruktur yang juga diproyeksikan akan semakin meningkat di tahun 2019.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini