nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

19 Importir Kantongi Rekomendasi Impor Produk Hortikultura

Koran SINDO, Jurnalis · Sabtu 04 Mei 2019 13:14 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 05 04 320 2051460 19-importir-kantongi-rekomendasi-impor-produk-hortikultura-Oiz3ilfiGe.jpeg Pelabuhan. Foto: Shutterstock

JAKARTA – Direktorat Jenderal (Ditjen) Hortikultura, Kementerian Pertanian (Kementan), kemarin menerbitkan lagi Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) kepada 11 importir bawang putih.

Jadi, total ada 19 importir swasta yang telah mengantongi rekomendasi. Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Ditjen Hortikultura Kementan, Yasid Taufik mengatakan, rekomendasi impor tersebut dikeluarkan bagi pelaku usaha yang secara aktif dan kooperatif melaksanakan kewajiban tanamnya sesuai aturan.

Mereka akan mengimpor bawang putih dari China. ”Kemarin, sebanyak 11 importir kami terbitkan RIPHnya dengan pengajuan 125.000 ton. Jadi, total sampai saat ini ada 19 importir atau setara volume 245.000 ton,” ujar Yasid.

Baca Juga: 60.000 Ton Bawang Putih Impor dari China Masuk RI

Menurut Yasid, dari 19 importir swasta tersebut, yang sudah terbit persetujuan impornya dari Kementerian Perdagangan (Kemendag) sebanyak 115.000 ton. ”Selebihnya menyusul,” kata Yasid.

Yasid berharap para importir tersebut segera merealisasikan impornya untuk meredam harga bawang putih di dalam negeri. ”Targetnya untuk mengamankan pasokan dan menstabilkan harga bawang putih nasional terutama saat puasa dan Lebaran,” katanya.

Yasid menambahkan, dalam waktu dekat bawang putih asal China tersebut segera digelontorkan ke pasar. Pasalnya, sudah ada 60.000 ton telah tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dan Tanjung Priok Jakarta.

Jumlah ini merupakan rangkaian realisasi pemasukan 115.000 ton bawang putih sesuai persetujuan impor dari Kemendag. ”Begitu masuk, langsung digelontorkan ke pasar induk dan ritel nasional secepatnya agar harga bisa ditekan.

Defisit Neraca Perdagangan 

Pemerintah memastikan masyarakat bisa menjalankan ibadah puasa dan merayakan lebaran nanti dengan lebih tenang,” bebernya. Agar pemasukan bawang putih bisa lebih cepat, kata Yasid, pihaknya akan mempercepat proses administrasi di pelabuhan bongkar.

Percepatan itu baik di kepabeanan maupun di proses karantina. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Ditjen Hortikultura Moh Ismail Wahab mengatakan, pemerintah telah melakukan berbagai langkah konkret untuk menstabilkan pasokan bawang putih.

Sebab, total kebutuhan bawang putih nasional dalam sebulan hanya sekitar 42.000 ton. ”Jadi, kalau dalam waktu dekat ini digelontor 60.000 ton, sangat cukup untuk mengamankan pasokan nasional sekaligus mengerek harga turun ke posisi normal,” bebernya.

2021 Stop Impor

Di sisi lain, Kementan bertekad menghentikan impor bawang putih pada 2021 mendatang. Pasalnya Kementan telah memacu produksi bawang putih lokal melalui program APBN dan wajib tanam importir.

Kementan juga menggandeng importir agar menanam bawang putih di dalam negeri sesuai ketentuan Permentan No 24/2018 yang mewajibkan setiap importir memproduksi 5% dari volume pengajuan rekomendasi impornya.

Sebelumnya, Dirjen Hortikultura Suwandi mengatakan importasi bawang putih hanya akan berlangsung hingga 2020 karena pada 2021 Indonesia sudah bisa swasembada bawang putih.

Karena itu, pihaknya mendorong para importir agar bermetamorfosis menjadi pengusaha bawang putih. ”Caranya, importir bisa mengembangkan bawang putih sendiri ataupun bermitra dengan kelompok tani,” kata Suwandi.

Defisit Neraca Perdagangan

Data Kementan menyebutkan, luas tanam bawang putih pada 2018 mencapai 8.000 hektare (ha) lebih. Angka tersebut naik sekitar 400% dari luas tanam tahun sebelumnya yang mencapai 2.000an ha.

Pada 2020 ditargetkan luas tanam mencapai 20.000 ha hingga 60.000 ha. Puncaknya pada 2021, direncanakan penanaman seluas lebih dari 80.000 ha sehingga dengan demikian bisa memenuhi kebutuhan bawang putih nasional.

Sentra-sentra penanaman tersebar di 110 lebih kabupaten se-Indonesia. Di antaranya Aceh Tengah, Humbang Hasundutan, Solok, Kerinci, Cianjur, Majalengka, Tegal, Banjarnegara, Wonosobo, Temanggung, Magelang, Karanganyar, Malang, Pasuruan, Banyuwangi, Tabanan, Lombok Timur, Bantaeng, Enrekang, hingga Minahasa Selatan.

(Sudarsono)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini