Rupiah Menguat Tipis ke Rp14.280 per USD

Feby Novalius, Jurnalis · Selasa 07 Mei 2019 17:18 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 07 278 2052682 rupiah-menguat-tipis-ke-rp14-280-per-usd-UacuGFQdsU.jpg Ilustrasi Rupiah (Foto: Antara)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sedikit menguat pada perdagangan sore ini. Rupiah kembali menguat ke level Rp14.200-an per USD di penutupan perdagangan.

Dilansir dari Bloomberg Dollar Index, Selasa (7/5/2019) pukul 17.11 WIB, Rupiah pada perdagangan spot exchange menguat 17,5 poin atau 0,12% ke level Rp14.280 per USD. Rupiah hari ini bergerak di kisaran Rp14.267 per USD – Rp14.311 per USD.

Sementara itu, YahooFinance mencatat Rupiah menguat 15 poin atau 0,10% ke Rp14.275 per USD. Dalam pantauan YahooFinance, Rupiah bergerak di kisaran Rp14.260 per USD – Rp14.316 per USD.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp14.309/USD

Menurut Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan Moneter BI Nanang Hendarsah, dua Minggu terakhir dinamika global terus bergerak. Seperti Chairman The Federal Reserve Jerome Powell tidak akan naikkan bunga, dan arah suku bunga ke depan sesuai dengan ekspektasi pasar.

"Ada perbedaan antara ekspektasi pasar dan chief, dolar AS melemah di Asia itu pagi ini. Job report atau laporan pekerjaan kita lihat misalnya, sektor tenaga kerja memang cukup solid, kalau dilihat tingkat month-to-month (mtm), itu sangat rendah," ujarnya.

Dia menuturkan, inflasi di Amerika Serikat banyak memperkirakan jauh di bawah target, sehingga di antara member The Federal Open Market Committee (FOMC) tidak homogen dalam melihat hal tersebut.

"Menyebabkan di global melemah tetapi karena ada ketidakpastisn dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengenai kesepakatan perdagangan Amerika Serikat-China ancam produk China," tutur dia.

Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp14.297 per USD, Begini Respons BI

Dia menjelaskan bahwa statement itu sifatnya jangka pendek. Karena itu akan berubah dalam waktu singkat. Bisa berbalik arah, bukan jangka panjang. Dinamika pada akhirnya pengaruhi penyesuaian portofolio asing di Indonesia.

"Tadi pagi ada jual asing makanya BI masuk untuk pastikan out flow bisa terjaga dan berlanjut dan jaga di pasar spot ya. Dan statment Presiden Amerika Serikat Donald Trump dampaknya pada yuan ini jatuh tajam, dan memicu jatuhnya harga saham di index di China tetapi lebih dari global jangka pendek, 5%," kata dia.

Dia juga memastikan bahwa hal seperti ini, arus disikapi fluktuasi biasa, tidak perlu banyak di cemaskan. Bank Indonesia (BI), dipastikan akan selalu di pasar untuk jaga stabilitasnya.

"Untuk sebab pelemahan Rupiah di domestik itu, di mana kita ketahui produk domestik bruto (PDB) 5,07% memang di bawah ekspektasi pasar harus dilibatkan compareable dengan negara lain, masih bergerak di atas 5% itu cukup solid menurut saya triwulan dua pasti akan meningkat, karena akan dinamis," ungkap dia.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini