Jejak Bisnis Nabi Muhammad SAW, Rahasia Sukses Berdagang

Rani Hardjanti, Jurnalis · Kamis 16 Mei 2019 06:05 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 15 320 2056059 jejak-bisnis-nabi-muhammad-saw-rahasia-sukses-berdagang-O7MRMKZOOn.jpeg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Kehidupan perniagaan pada bangsa Arab merupakan sebuah fakta sejarah yang tidak dapat dipungkiri. Dengan kondisi daerah yang dikelilingi oleh padang pasir yang panas dan kering sangat kurang menguntungkan pada para penduduk di semenanjung Arabia untuk melakukan kegiatan selain berdagang.

Sehingga ketika Nabi Muhammad SAW dilahirkan, dia mendapat keuntungan yang besar dari hal tersebut. Lambat laun hasil usaha Nabi Muhammad SAW mulai menunjukkan perbedaan yang mencolok di antara pengusaha yang lain pada masa itu.

Sejak awal Nabi Muhammad SAW muda telah menciptakan diferensiasi atas dirinya sehinggaia dikenal bukan sebagai satu di antara banyak pengusaha yang ada, tetapi sebagai satu-satunya pengusaha muda dengan hasil perdagangan yang luar biasa. Membawa keuntungan yang berlipat ganda telah menjadi reputasi yang melekat pada diri Nabi Muhammad SAW.

Baca Juga: Jejak Bisnis Nabi Muhammad SAW, Kiat Memetakan Segmentasi Pelanggan

Nabi Muhammad SAW menyadari bahwa orang-orang Arab di masa itu khususnya bangsa Quraisy adalah orang yang pintar, dalam artian tidak akan dengan mudah menerima sesuatu yang berbeda dengan apa yang telah mereka percayai atau apa yang telah mereka anut.

Cara berdagang Nabi Muhammad SAW yang lain dengan cara konvensional para pedagang Arab tidak membuatnya diasingkan, tetapi justru dia mampu meraih keuntungan yang jauh lebih baik dibanding dengan para pedagang lain.

Nabi Muhammad SAW telah melakukan sebuah istilah yang baru diangkat pada tahun 2002 oleh Sam Hill dan Glenn Rifkin yaitu, Radical Marketing. Radikal bukan dalam artian yang negatif atau bahkan destruktif, tetapi radikal dalam artian berbeda, dan dengan perbedaan tersebut dapat menjadi sebuah solusi bagi permasalahan yang sering timbul pada pola perdagangan konvensional pada masa itu.

infografis

Nabi Muhammad SAW mempunyai cara pandang yang berbeda dengan para pengusaha pada masanya. Apabila dasar-dasar dari Radical Marketing yang dikemukakan oleh Sam Hill dan Glenn Rifkin kita sematkan pada diri Nabi Muhammad SAW maka kita akan menemukan banyak kesamaan. Uniknya, semua dasar itu dilakukan seorang diri bahkan jauh sebelum dasar tersebut diangkat ke permukaan dan menjadi sebuah bentuk pemasaran yang berbeda.

Seperti dikutip dari buku Marketing Muhammad, Strategi Andal dan Jitu Praktik Bisnis Nabi Muhammad SAW, karya Thorik Gunara dan Utus Hardiono Sudibyo, terbitan Madani Prima, Rabu(15/5/2019), sebagai contoh, mari kita bandingkan dua ciri utama pemasaran radikal menurut mereka dan dua hal yang menjadi pemikiran Nabi Muhammad SAW.

Pertama, para pemasar radikal mempunyai ikatan-ikatan yang sangat erat dengan target market tertentu dengan tujuan untuk menciptakan sebuah komunitas pelanggan dan mengetahui apa- apa yang sebenarnya diinginkan oleh konsumen.

Nabi Muhammad SAW berkata, “Siapa yang ingin rezekinya dilapangkan Allah atau ingin usianya dipanjangkan, maka hendaklah dia menyambungkan silaturahmi.” (HR. Muslim, dari Anas bin Malik Ra.).

Ikatan yang menjadi dasar pergerakan para pemasar radikal telah dikemukakan dan sangat dianjurkan oleh Nabi Muhammad SAW. Terlebih lagi penggunaan istilah silaturahmi (menyambungkan tali kasih sayang di dunia dan di akhirat) tidak hanya mencakup keadaan saat bertransaksi atau dalam ruang lingkup bisnis dan usaha, tetapi juga sampai pada hubungan pertemanan, persaudaraan dan bertetangga.

Nabi Muhammad SAW telah memberikan contoh bahwa sebuah hubungan yang baik antar sesama manusia tidak hanya dapat memberikan keuntungan dalam hal berdagang, tetapi juga memberikan ketenangan dalam hati. Niat baik menjadi aset nomor satu bagi para pengusaha dan hal ini tidak akan dapat diwujudkan tanpa adanya hubungan yang baik antara pedagang dengan konsumennya.

infografis

Kedua, pemasar radikal cenderung mengarahkan fokus pada pertumbuhan dan ekspansi daripada upaya pengambilan keuntungan. Mereka menggunakan data pasar dengan sangat hati-hati dan melakukan tinjauan kembali pada teori bauran pemasaran.

Dalam berdagang, Nabi Muhammad SAW tidak hanya fokus di kota Makkah saja tetapi melakukan ekspor sampai ke negeri Syam seperti Palestina, Syria, Libanon dan Yordania. Nabi Muhammad SAW menganjurkan untuk selalu bermurah hati, menjauhi sumpah yang berlebihan untuk mempromosikan, tidak menyaingi harga jual orang lain (perang harga) dan tidak memotong jalur distribusi.

Nabi Muhammad SAW tidak hanya menggunakan data untuk memikirkan bagaimana caranya meningkatkan pertumbuhan perusahaan yang pada akhirnya akan menaikkan omzet perdagangan. Tetapi dia menggunakan kebiasaan orang-orang untuk menciptakan batasan-batasan perilaku yang akan mendukung pada praktik perdagangan.

Nabi Muhammad SAW lebih condong memerhatikan individu yang akan menggunakan data daripada hanya memerhatikan data tersebut. Pada akhirnya, Nabi Muhammad SAW tidak hanya melakukan sebuah marketing yang berbeda tapi dia pun mampu meletakkan tahapan-tahapan yang dia lalui sebagai bentuk pemasaran yang lebih baik dan menggeser sistem pemasaran konvensional yang berlaku pada saat itu.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini