E-Commerce Berburu Konsumen dengan Perang Promo Ramadan

Koran SINDO, Jurnalis · Senin 20 Mei 2019 10:12 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 20 320 2057804 e-commerce-berburu-konsumen-dengan-perang-promo-ramadan-hvqzGQTYhX.jpg (Foto: Ilustrasi Koran Sindo)

JAKARTA – Bulan Ramadan menjadi momentum emas bagi platform belanja online untuk mendongkrak transaksi penjualan di antaranya melalui program flash sale yang menawarkan diskon fantastis. Konsumen pun ketagihan dibuatnya. Meskipun bulan Ramadan identik dengan pengendalian hawa nafsu duniawi, uniknya di Indonesia konsumsi masyarakat justru lebih tinggi dibanding bulan lainnya.

Tren konsumsi ini terus bergerak dan mencapai puncak seiring cairnya tunjangan hari raya (THR). Tak hanya konsumsi barang seperti makanan atau minuman, konsumsi internet melalui mobile phone pun meningkat saat Ramadan.

Belum lama ini, Snapcart, lembaga riset berbasis aplikasi, juga melakukan penelitian tentang rencana penggunaan THR oleh masyarakat. Hasilnya, 60% responden berencana akan menggunakannya untuk berbelanja, dimana 91% di antaranya akan berbelanja melalui ecommerce.

Baca Juga: Sistem Pembayaran Digital yang Bisa Dipakai Belanja Lebaran

Platform belanja online (ecommerce) pun tak mau ketinggalan momentum. Beragam program diskon dan flash sale dipromosikan sangat gencar dan digelar lebih sering di bulan Ramadan. Flash sale (penjualan kilat) adalah diskon atau promosi yang ditawarkan oleh toko online dalam waktu singkat dengan jumlah barang yang juga terbatas. Country Brand Manager Shopee Rezki Yanuar mengatakan, Shopee memulai flash sale sejak 2017.

Pada hari biasa, flash sale digelar tiga kali dan ditingkatkan menjadi delapan kali sehari saat Ramadan melalui program bertajuk Shopee Big Ramadhan Sale yang puncaknya jatuh pada 24 Mei.

Berbagai produk dan kategori terpilih akan ditawarkan di Big Ramadhan Sale 2019. Mulai dari fashion, kecantikan, hobi, hingga kado spesial Lebaran. Selain itu, Shopee juga bekerja sama dengan mitra-mitra terpilih untuk menghadirkan promo eksklusif pada Super Brand Day.

”Dalam Shopee Big Ramadhan Sale terdapat potongan harga spesial hingga 90% untuk produk dan kategori terpilih seperti kategori Kado Spesial Lebaran, fashion, dan kecantikan,” sebutnya.

belanja online

Program flash sale merupakan salah satu program yang mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat. Kontribusi flash sale terhadap peningkatan pendapatan diakui cukup signifikan, namun promo-promo lain juga turut berkontribusi karena juga digemari pengguna.

Senada, Head of Public Relations Blibli.com Yolanda Nainggolan mengatakan, selama Ramadan Blibli.com menggelar flash sale tiga kali sehari dari sebelumnya hanya sekali dalam sehari.

Menurut dia, flash sale merupakan salah satu upaya menerapkan berbagai strategi penjualan untuk menarik minat pengguna melakukan transaksi di Blibli.com . ”Flash sale sudah lama kami lakukan sebagai daya tarik berbelanja di Blibli.com. Kami menggelar flash sale spesial Ramadan tiga kali per hari yaitu pukul 03.00 - 09.00, 09.00 - 15.00, dan 15.00-03.00,” sebutnya.

Pihaknya juga melihat respons positif dari pendekatan program seperti flash sale tersebut, yang memungkinkan Blibli.com meningkatkan jumlah order hingga 2,5 kali lipat di kuartal I/2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut Yolanda, item paling laris terjual saat ini adalah kurma, sirup, aksesori, dan barang elektronik rumah tangga. Dia menambahkan, Blibli.com juga memberikan diskon bergantung pada jenis barang. Beberapa di antaranya bahkan didiskon sangat besar misalnya handphone, yang harganya hanya menjadi Rp10.000.

Tepung Bumbu Murah Rp1

Diskon yang luar biasa besar bahkan terkadang ”tidak masuk akal” inilah yang membuat Estu Suryowati, 30, menjadi ketagihan flash sale dalam sebulan terakhir. Wanita yang tinggal di Jakarta Pusat ini mengaku setiap hari rata-rata 2-3 kali ikut program flash sale di Bukalapak.com.

belanja online

Estu antusias manakala platform belanja online buatan anak negeri itu meningkatkan frekuensi flash sale dari empat kali menjadi delapan kali sehari selama Ramadan. Pembayaran melalui dompet digital (e-wallet) juga memudahkannya dalam bertransaksi.

”Awalnya lihat-lihat siapa tahu ada barang yang kita butuhkan (need) dan kita inginkan (want). Eh ternyata lebih banyak yang what we want. Akhirnya jadi impulsif. Misalnya, aku masih punya lipstik banyak, eh tergoda beli lagi karena diskonnya lumayan banget, ” ucapnya seraya tersipu.

Estu membeberkan barang yang dibelinya lewat flash sale selama sebulan mulai dari tepung bumbu, celemek, kaos kaki, tisu, kosmetik, tote bag, hingga perkakas seperti sendok, dan sekop portabel.

”Buatku pencapaian paling hakiki itu waktu dapat tepung bumbu dan kaos kaki seharga hanya Rp1. Selain itu, produk kosmetik dari harga Rp198.000 menjadi hanya Rp25.400. Sekitar 60% barang yang saya beli di flash sale adalah produk kosmetik,” ungkap Estu yang menghabiskan rata-rata Rp200.000 per bulan untuk belanja online.

Baca Juga: Peritel Menjemput Rezeki Tahunan di Bulan Ramadan

”Walaupun ketagihan, tapi aku tidak menjadi lebih boros soalnya banyak diskon dan cashback, ” imbuhnya. Senada, Ghoida Rahmah, 25, juga tergiur flash sale lantaran diskonnya yang menarik. ”Enaknya ikut flash sale harganya luar biasa murah banget, diskonnya setidaknya 50-70%. Jadi lebih hemat juga,” ujar Ghoida yang sudah sejak 2015 suka belanja online. Ghoida mengaku sudah ketagihan ikut flash sale yang dilakoninya 2-3 kali sehari. Wanita berhijab ini biasanya mencari produk kosmetik atau perawatan kulit dengan kisaran harga antara Rp100.000-Rp200.000.

”Jadi sebulan mungkin Rp500.000 buat belanja online. Mungkin sekitar kurang dari 10% dari gaji per bulan,” ungkapnya. Dia juga berencana membelanjakan sebagian THR untuk belanja online. ”Kayaknya nanti akan dibelanjain online buat kebutuhan Lebaran kayak baju Lebaran atau makanan kue kering gitu ,” tukasnya.

Lain lagi dengan Diemas, 32. Dia meniatkan ikut flash sale dengan tujuan mendapatkan barang dengan diskon besar lalu menjualnya kembali sehingga mendapat untung.

Di hari biasa, laki-laki asal Pejaten, Jakarta Selatan ini mengikuti flash sale saat makan siang dan makan malam tiba, tapi saat Ramadan kali ini dia juga melakukannya saat sahur karena banyak e-commerce berlomba-lomba menyelenggarakan flash sale.

Biasanya Diemas ikutan flash sale mengincar barang-barang elektronik seperti handphone, laptop, dan peralatan rumah tangga seperti meja, kursi, dan lain-lain.

Dalam sehari ayah satu anak ini merogoh kocek sampai Rp2 juta. Barang-barang yang didapat dari flash sale dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi. Dia pun berbagi tips mendapatkan barang di flash sale salah satunya koneksi internet yang lancar.

”Namanya juga flash sale (penjualan cepat), pasti membutuhkan internet yang cepat juga kan. Maka, sebaiknya sediakan dua koneksi berbeda yaitu WiFi dan seluler,” sarannya.

Baca Juga: Ini Cara Ritel Hadapi Persaingan E-Commerce

Pemilihan barang yang diincar harus tepat serta metode pembayaran yang tepat juga akan memperbesar kemungkinan mendapatkan barang impian. ”Sebisa mungkin, gunakan pembayaran instan agar menghemat waktu sepersekian detik,” tandasnya.

Kuncinya Pengendalian Diri

Sementara itu, tidak sebatas flash sale beberapa e-commerce juga menghadirkan gimmick tertentu. Lazada misalnya menawarkan fitur menarik dalam Lazada One Stop Shoppertainment yaitu LazGame, di mana pelanggan bisa bermain dan mendapatkan voucher belanja sambil menunggu buka puasa.

Pengamat budaya digital Firman Kurniawan mengatakan, manusia adalah makhluk yang suka memainkan permainan (homo ludens). Hal ini dikreasikan oleh pengelola e-commerce melalui permainan-permainan yang bisa membuat pelanggan betah berlama-lama.

”Yang namanya konsumtif itu sendiri sudah tidak rasional, kemudian agar orang lebih konsumtif dipacu dengan bermain- main tadi,” ujarnya. Firman menambahkan, pengendalian diri adalah kunci agar konsumen kembali kepada rasionalitas dan tidak terjebak kepada kebiasaan konsumsi yang berlebihan atau impulsif.

”Bagaimanapun di balik semua ini sebetulnya dipacu oleh pemasar agar konsumen terus belanja, jadi ya kita harus tahu kalau sudah masuk ke lubang jebakan. Intinya mengembalikan ke rasionalitas, dan itu perannya 75% ada pada diri sendiri. Kalau orang lain, hanya 25%,” pungkasnya.

(Hafid Fuad/Kunthi F Sandy/Nanang W/Oktiani Endarwati)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini