nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Perbaiki Neraca Dagang, Kontraktor Migas Dilarang Ekspor

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 22 Mei 2019 13:35 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 22 320 2058930 perbaiki-neraca-dagang-kontraktor-migas-dilarang-ekspor-OJM69Co8xn.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menggelar rapat koordinasi (Rakor) lanjutan tentang neraca perdagangan minyak dan gas bumi (Migas). Pada April 2019, neraca perdagangan Indonesia tercatat defisit USD2,5 miliar.

Usai rapat, Sekretaris Menteri Kemenko Perekonomian Susiwijono mengatakan, per Mei ini akan ada kebijakan baru yang dikeluarkan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terkait kegiatan eksplorasi migas.

"Crude oil hasil eksplorasi dalam negeri yang dulunya dijatah K3S (Kontraktor Kontrak Kerja Sama) dulu diekspor sekarang diolah di dalam negeri untuk kepentingan market dalam negeri," ujarnya di Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (22/5/2019).

 Baca Juga: Fakta-Fakta Menarik Neraca Dagang Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah RI

Dengan kebijakan tersebut, defisit neraca perdagangan bisa diperbaiki. Pasalnya, akan menurunkan impor crude oil, namun akan sedikit berpengaruh pada ekspor migas.

"Jadi ada side off, hanya saja pencatatan ekspor crude oil turun, tapi impor juga turun," ujarnya.

Selain kebijakan itu, data pada neraca perdagangan yang selama ini defisit karena migas diperbaiki. Seperti kegiatan eksplorasi Pertamina di luar negeri seperti Aljazair, Malaysia dan Irak, selama ini masih belum diketahui apakah sebagai impor atau tidak.

"Nah ternyata berdasarkan standar internasional, International Merchandise Trade Statistic, di semua negara kegiatan tersebut tetap sebagai impor. Sebaliknya, hasil eksplorasi perusahan asing di Indonesia seperti Total dan lainnya, yang dibawa ke luar negeri juga tercatat sebagai ekspor. Dari metode pencatatan sudah clear," ujarnya.

 Baca Juga: Neraca Perdagangan Defisit USD2,5 Miliar, Menko Darmin: Sangat Lebar

Koreksi atau perbaikan juga akan dilakukan pada hasil investasi di luar negeri yang berupa pendapatan itu belum tercatat di neraca pembayaran dan transaksi berjalan. Jadi, neraca pendapatan primer untuk record jasa investasi di luar negeri belum tercatat.

"Jadi nanti ada tambahan pencatatan baru tapi bukan di neraca perdagangannya, nanti ada koreksi, hasil investasi Pertamina di luar negeri tadi akan tercatat sebagai pendapatan primer di neraca perdagangan jasa kita," ujarnya.

(dni)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini