nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pelemahan Rupiah dan IHSG Hanya Sementara

Koran SINDO, Jurnalis · Kamis 23 Mei 2019 10:10 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 05 23 278 2059355 pelemahan-rupiah-dan-ihsg-hanya-sementara-LRWma8LeJW.jpg (Foto: Ilustrasi Koran Sindo)

JAKARTA – Aksi demonstrasi 22 Mei 2019 tidak akan berdampak signifikan terhadap investasi dan pasar keuangan di dalam negeri. Bahkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan indeks harga saham gabungan (IHSG) diyakini tak akan berlangsung lama.

”Ya itu namanya euforia pasar. Pasar itu suka sentimental saja,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta, kemarin. Menurut Darmin, aksi massa yang terjadi secara keseluruhan masih bisa dikendalikan oleh aparat keamanan. Karena itu, kondisi pada 22 Mei 2019 ini tidak akan berpengaruh signifikan terhadap kepercayaan pelaku pasar. ”Belum ada yang signifikan,” ujarnya. Tekanan di pasar keuangan domestik juga tidak hanya disebabkan kondisi dalam negeri, melainkan tekanan perang dagang antara AS dan China. Kondisi ini memicu pembalikan arus modal. ”Jadi selalu ada yang istilahnya dalam pasar keuangan itu taper-tantrum . Jika ada kejadian, investor bisa panik dan pergi. Anda akan lihat sekarang ada yang keluar, tapi kalau situasinya sudah baik, nanti dia balik lagi,” jamin Darmin.

Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp14.500/USD Imbas Aksi 22 Mei

Terkait pelemahan rupiah, Kepala Departemen Moneter Bank Indonesia (BI) Nanang Hendrasyah mengatakan nilai tukar rupiah bakal kembali stabil karena BI mengupayakan langkah penguatan terhadap rupiah. ”BI akan terus menjaga stabilitas kurs rupiah dengan berada di pasar,” ujar Nanang Hendrasyah. Nanang pun mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah sejauh ini sejak pembukaan, bukan karena aksi demonstrasi yang menolak hasil rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU). Menurut dia, tekanan nilai tukar rupiah lebih disebabkan genuine demand domestic atau permintaan domestik akan dolar AS untuk kepentingan impor, repatriasi, dan dividen. ”Jadi ini karena untuk impor, repatriasi, dan dividen,” paparnya.

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani berharap kondisi di dalam negeri bisa segera diatasi dan keamanan ibu kota kembali terjaga. ”Kita berharap ini tidak akan lama, segera bisa diatasi sehingga tidak menimbulkan dampak negatif bagi masyarakat maupun ekonomi,” ujarnya saat buka bersama dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) di Jakarta, kemarin. Menkeu mengingatkan bahwa ini bulan Ramadan dan mendekati Hari Raya Idul Fitri, karena momen berkumpulnya keluarga dan menjadi pemicu positif kegiatan perekonomian. ”Kalau terjadi situasi seperti ini tentu akan mengurangi dampak positif kondisi Ramadan dan jelang Idul Fitri nantinya,” katanya. Ekonom Indef Bhima Yudhistira menilai, penurunan rupiah dan IHSG terkait dengan risiko politik yang meningkat membuat persepsi investor menurun terhadap iklim investasi di Indonesia.

Nilai Tukar Rupiah terhadap Dolar AS Melemah Jadi Rp14.940 per Dolar AS 

”Indikator jangka pendeknya terlihat dari kurs rupiah yang mengalami pelemahan dan IHSG yang terkoreksi kemarin,” katanya saat dihubungi semalam. Diperkirakan rupiah bergerak melemah ke range Rp14.530-Rp14.600 per USD. Sedangkan IHSG menurun di 5.800-5.900 hingga akhir pekan. Selain itu, adanya gejolak politik yang memanas pascapilpres juga berpengaruh terhadap outlook ekonomi sepanjang 2019. Khususnya investor asing masih melakukan posisi hold atau menahan realisasi investasi langsung. Dia menyampaikan, tren foreign direct investment (FDI) atau investasi langsung dari luar negeri diperkirakan masih akan menurun tahun ini setelah di kuartal I/2019 hampir minus 1%.

Imbas dari rendahnya investasi membuat pertumbuhan ekonomi mengalami perlambatan di bawah 5%. ”Ini kondisi yang harus diwaspadai. Padahal investasi dan ekspor adalah motor penggerak utama yang diharapkan selain konsumsi rumah tangga,” beber dia. Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menyampaikan, rupiah dan IHSG memang dalam tekanan karena faktor global dan defisit neraca perdagangan. Tekanan pelemahan semakin kuat karena adanya kerusuhan yang terjadi sejak kemarin. ”Kalau kondisi ini tidak segera selesai saya perkirakan rupiah dalam minggu ini akan melewati Rp14.500 per USD dan IHSG akan ada di kisaran 5.900,” pungkas dia. Adapun selama sebulan pascapemilu memang rupiah cenderung melemah.

Rupiah pun terdepresiasi hingga 0,45% sepekan terakhir. Sementara dalam satu bulan terakhir, nilai tukar rupiah telah merosot 3,05%. Aksi massa yang memprotes hasil rekapitulasi KPU memberi sentimen negatif bagi pasar saham. IHSG kemarin ditutup tertekan 11,74 poin atau 0,20% ke level 5.939,64. Pada awal perdagangan IHSG dibuka langsung melemah sebesar 2,99 poin atau 0,05% ke posisi 5.948,33. Sementara itu, sepanjang pekan ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih memerah. Data Yahoo Finance mencatat rupiah pada Rabu (22/5) ditutup melemah 45 poin atau 0,31% ke level Rp14.520 per dolar AS. Selasa (21/5), nilai tukar rupiah ditutup di Rp14.475 per dolar AS.

(Kunthi Fahmar Sandy/Sindonews/Ant)

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini