nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Asal Usul Budaya Perusahaan Kasih THR untuk Karyawan

Minggu 26 Mei 2019 07:44 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 05 24 320 2059933 asal-usul-budaya-perusahaan-kasih-thr-untuk-karyawan-DrkKsll4Kq.jpeg Ilustrasi: Shutterstock

JAKARTA - Sudah menjadi sebuah budaya di Indonesia jika setiap tahunnya para pekerja menerima penghasilan dalam bentuk Tunjangan Hari Raya (THR). Besarannya yang cukup besar membuat THR sangat-sangat ditunggu oleh para pekerja di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan selama hari raya yang kadang membengkak.

Ternyata kehadiran THR tidak muncul begitu saja tetapi melalui banyak proses hingga akhirnya bisa seperti saat ini. Bagaimana awal mulanya muncul Tunjangan Hari Raya yang kita nikmati saat ini? Ini rinciannya yang dilansir dari laman Qerja.com:

Baca Juga: Perusahaan Wajib Bayar THR H-7, Ini Besaran yang Diterima

Awalnya Hanya Untuk PNS

Pemberian tunjangan hari raya pertama kali dicetuskan pada era kabinet Soekiman Wirjosandjojo pada tahun 1951. Tujuan pemberian uang THR ini adalah untuk memberikan motivasi lebih pada Pamong Praja (PNS) pada masa tersebut.

Besaran tunjangan yang diberikan oleh Pemerintah kepada Pamong Praja tersebut sebesar Rp125-Rp200. Jumlah tersebut bisa dibilang lumayan besar dan cukup membantu para Pamong Praja.

Kebijakan Pemerintah yang memberikan tunjangan ini kepada para PNS akhirnya mendapat reaksi keras dari para buruh terutama Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI). Mereka menuntut Pemerintah juga memberikan hal yang serupa bagi para buruh dengan besaran tunjangan sebesar satu bulan gaji kotor.

Baca Juga: Perusahaan Nggak Bayar THR? Lapor ke Sini

Selepas itu Pemerintah memberikan edaran kepada perusahaan untuk memberikan tunjangan tersebut walaupun belum sebesar satu bulan gaji. Sifat pemberian ini pun masih berupa sukarela sehingga tidak ada kejelasan mengenai besaran maupun waktunya hingga tahun 1994.

Mulai Diatur Pemerintah

Polemik besaran dan waktu pemberian yang berbeda-beda mulai berakhir di tahun 1994. Di tahun tersebut Kementrian Tenaga Kerja mengeluarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.4 Tahun 1994 mengenai Tunjangan Hari Raya Keagamaan Bagi Pekerja Di Perusahaan.

Melalui peraturan ini Pemerintah menyeragamkan besaran tunjangan dan juga waktu untuk mengeluarkan tunjangan tersebut. Di peraturan ini pekerja yang berhak menerima THR merupakan pekerja yang sudah bekerja lebih dari 3 bulan.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini