nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Permintaan Tinggi, Indonesia Akan Tambah Ekspor Kakao ke Uni Eropa

Senin 03 Juni 2019 11:10 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 03 320 2063306 permintaan-tinggi-indonesia-akan-tambah-ekspor-kakao-ke-uni-eropa-0nS9AJs8Gr.jpg Foto: Reuters

JAKARTA - Pemerintah akan medorong peningkatan volume ekspor kakao dan produk turunannnya menuju Uni Eropa. Apalagi, permintaan pada salah satu komoditas unggulan ini mengalami tren yang terus meningkat.

Atase Pertanian Indonesia untuk Belgia di Kota Brussel Wahida neraca perdagangan Indonesia untuk produk kakao dan turunannya selalu menunjukkan tren yang positif dari tahun ke tahun. Nilai ekspor kakao Indonesia ke Uni Eropa pada 2018 mencapai USD215,2 juta atau meningkat sebesar 22% dibandingkan periode 2017 sebesar USD201,7 juta.

Angka ini baru satu persen dari total nilai impor Uni Eropa (UE) untuk produk kakao dan turunannya yang mencapai USD27,4 miliar.

Adapun negara importir kakao ke UE terbesar adalah Pantai Gading dengan USD 4 miliar, lalu disusul Ghana dengan USD1,5 miliar dan ada juga Nigeria dengan USD672 juta.

Berdasarkan data yang dilansir oleh Eurostat, Uni Eropa merupakan negara pengonsumsi kakao terbesar di dunia, yakni sebesar 8-9 kg per kapita per tahun.

"Salah satu komoditas unggulan yang hingga saat ini memiliki tren permintaan yang meningkat adalah coklat atau kakao. Indonesia berkomitmen untuk meningkatkan volume ekspor kakao dan produk turunannya yang berkualitas dan berkelanjutan," ujarnya dikutip dari halaman Antaranews, Minggu (3/6/2019).

Pada kesempatan yang sama, Atase Perdagangan KBRI di Brussel Merry Astrid Indriasari menambahkan, pengamanan akses pasar komoditas strategis melalui liberalisasi tarif menjadi kunci dalam perundingan Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA).

Hal ini diyakini juga bisa mendorong laju ekspor komoditi kakao dan produk turunannya ke pasar UE. Hingga saat ini, Indonesia telah mengusulkan initial offer untuk lebih dari 10.000 pos tarif, termasuk di dalamnya kakao dan produk turunannya.

"Kami harapkan ini bisa mempercepat proses negosiasi untuk mengejar ketertinggalan dengan negara ASEAN lainnya yang sudah memiliki FTA dengan UE," kata Astrid. 

Di sisi lain, permintaan biji kakao di dalam negeri juga sebenarnya meningkat. Selain mengekspor biji kakao, saat ini industri pengolahan biji kakao untuk re-ekspor juga sedang berkembang di dalam negeri.

Sebagai catatan, pada tahun 2018, Indonesia mengimpor biji kakao sebanyak 240.000 ton dengan nilai impor mencapai USD528 juta . Pasokan biji kakao nasional yang tersedia masih belum mampu mencukupi kapasitas terpasang industri olahan kakao.

"Pabrik-pabrik pengolahan kakao mengolah biji kakao menjadi barang setengah jadi untuk selanjutnya diekspor ke negara-negara konsumen utama seperti Eropa, Amerika Serikat dan Jepang," kata Wahida.

Hingga saat ini, cacao butter masih menjadi produk unggulan ekspor Indonesia dengan volume ekspor mencapai 24.600 ton di tahun 2018.

(rhs)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini