nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Strategi Sri Mulyani Jaga Rupiah agar Tak Bergerak Liar pada 2020

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 11 Juni 2019 18:54 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 11 278 2065432 strategi-sri-mulyani-jaga-rupiah-agar-tak-bergerak-liar-pada-2020-NxiGZpD1mC.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Pemerintah mengasumsikan nilai tukar Rupiah pada tahun 2020 berada di kisaran Rp14.000-Rp15.000 per USD. Asumsi itu berdasarkan pertimbangan pemerintah terkait perkembangan ekonomi eksternal maupun dalam negeri.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, sejumlah faktor dari sisi eksternal diantaranya perlemahan ekonomi global, ketidakpastian hubungan dagang Amerika Serikat (AS) dan China, arah kebijakan moneter AS, proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa, dan perlemahan perdagangan global, serta fluktuasi harga komoditas.

"Hal-hal tersebut mempengaruhi besarnya arus valuta asing yang masuk dan keluar Indonesia seperti yang terjadi pada tahun 2018, yang pada gilirannya berimbas pada fluktuasi nilai tukar Rupiah," ujar dia dalam Rapat Paripurna di DPR RI, Jakarta, Selasa (11/6/2019).

 Baca Juga: Pukul Mundur Dolar AS, Rupiah Menguat ke Rp14.238/USD

Dia menjelaskan, neraca pembayaran dan neraca transaksi berjalan adalah refleksi perekonomian Indonesia dalam hubungannya dengan dunia internasional. Di mana perbaikan kinerja ekspor barang, pendalaman sektor jasa keuangan, serta perbaikan iklim investasi akan mempengaruhi posisi neraca transaksi modal dan finansial.

"Persoalan tersebut telah dan akan menjadi agenda perekonomian kita," imbuh dia.

Oleh sebab itu, pemerintah ke depan mendorong perbaikan struktural untuk memperkuat daya saing ekonomi domestik, penguatan sektor riil dan pendalaman sektor industri, perbaikan infrastruktur, penyederhanaan aturan atau deregulasi, dan insentif-insentif kebijakan ditujukan untuk menciptakan efisiensi, produktivitas dan inovasi di sektor riil.

Menurutnya, produk Indonesia harus memiliki daya saing baik untuk ekspor maupun di pasar domestik. Perbaikan iklim investasi dan penyederhanaan regulasi juga akan mendorong arus investasi masuk ke Indonesia.

 Baca Juga: Cara Sri Mulyani Batasi Tenaga Kerja Asing Masuk ke Indonesia

Di sisi lain, pengembangan sektor pariwisata dengan sepuluh destinasi wisata di luar Bali diharapkan akan semakin menarik jumlah wisatawan luar negeri dan mencegah keluarnya devisa karena wisatawan Indonesia ke luar negeri.

"Dengan langkah-langkah tersebut arus modal dan perdagangan barang dan jasa akan dapat diseimbangkan atau bahkan menjadi surplus sehingga mendorong akumulasi cadangan devisa nasional dan juga berdampak pada perbaikan nilai tukar," jelas dia.

Pendalaman pasar pun akan terus dilakukan pemerintah bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), bukan hanya dengan mendukung pertumbuhan ekonomi dan sektor riil, tetapi juga untuk lebih menjamin likuiditas dan stabilitas pasar keuangan dalam negeri.

Selain itu, pemerintah juga mempersiapkan strategi kerja sama internasional dan bilateral yang dapat membantu stabilisasi nilai tukar. Format-format kerja sama seperti: Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM), perjanjian bilateral currency swap arrangement merupakan strategi yang disiagakan sebagai buffer penguatan cadangan devisa bila diperlukan.

Sehingga, lanjut dia, dengan semakin kuatnya pasar keuangan, tentu Indonesia akan lebih mampu mengatasi tekanan-tekanan eksternal yang juga akan berpengaruh pada stabilitas nilai tukar.

"Nilai tukar rupiah yang stabil namun fleksibel merupakan instrumen kebijakan makro yang penting untuk menjaga ekonomi Indonesia dari shock dan tekanan. Karena itu, nilai tukar harus dijaga agar dapat memperkuat daya saing dan ketahanan ekonomi secara konsisten," katanya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini