nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Indonesia Kok Kalah dari Vietnam? Begini Penjelasan Sri Mulyani

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Senin 17 Juni 2019 19:29 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 06 17 320 2067507 indonesia-kok-kalah-dari-vietman-begini-penjelasan-sri-mulyani-I24rb06Qg5.jpg Foto Investasi (Ilustrasi: Okezone)

JAKARTA - Dalam kondisi terjadinya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, berbagai negara di Kawasan Asia Tenggara berusaha mengambil kesempatan untuk menarik investasi ke negaranya. Sebab, banyak pengusaha yang merelokasi bisnisnya dari China.

Namun, kondisi investasi Indonesia di nilai masih lebih rendah dibanding negara-negara lain di Asia Tenggara. Bahkan investor cenderung lebih tertarik berinvestasi ke Vietnam ketimbang ke Indonesia.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menilai, Vietnam dianggap berhasil menarik investasi karena didorong beberapa kebijakan fiskal yang mudah. Salah satunya Pajak Penghasilan (PPh) Badan yang lebih rendah.

“Kami sering ditanya dengan rezim fiskalnya Vietnam yang sekarang ini dianggap berhasil menarik investasi. Untuk Vietnam, PPh Badan mereka adalah di 20%. Ini termasuk tarif yang rendah di kawasan ASEAN,” ungkap Sri Mulyani dalam rapat kerja di Komisi XI DPR, Jakarta, Senin (17/6/2019).

Baca Juga: Perusahaan Perikanan AS Tanamkan Investasi Rp700 Miliar di Manado

Sedangkan PPh Badan yang berlaku di Indonesia cenderung lebih tinggi yaitu 25%. Terkecuali bagi perusahaan yang sudah go public atau tercatat di pasar modal (IPO), PPh Badan yang ditetapkan 20%.

Sementara dari sisi insentif pajak seperti tax holiday, menurut Sri Mulyani, Indonesia dan Vietnam punya kebijakan yang tidak jauh berbeda. Bahkan menurutnya, kebijakan tax holiday Indonesia sudah cukup progresif karena diberikan untuk jangka waktu hingga 20 tahun.

Di Vietnam sendiri tax holiday dapat diperpanjang hingga 13 tahun sesuai dengan jenis investasinya. Serta, beberapa sektor yang diprioritaskan oleh Vietnam antara lain hi-tech dan sektor yang memiliki dampak sosial yang penting seperti bidang pendidikan, vokasi, kesehatan, budaya, olahraga dan lingkungan.

Sri Mulyani mengatakan, Indonesia juga memiliki sektor yang diprioritaskan hampir sama yaitu vokasi dan pendidikan. “Jadi kalau benchmarking Indonesia sebenarnya tidak terlalu berbeda,” lanjutnya.

Baca Juga: Butuh Investasi Rp5.823 Triliun untuk Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 2020

Kendati demikian, dia mengakui jika Vietnam memiliki kebijakan fiskal khusus untuk daerah tertinggal. Di negara tersebut, untuk daerah tertinggal ada pemotongan tarif PPh sebesar 3%, di bawah tarif biasa yaitu 17%

Bahkan untuk daerah yang sangat tertinggal diberikan pemotongan hingga separuhnya yaitu 10%. Pemotongan tarif PPh ini yang belum ada di Indonesia. “Kami untuk hal ini belum memiliki kecuali untuk urusan perusahaan IPO (ada pemotongan tarif pajak),” ujarnya.

Oleh sebab itu, kata Sri Mulyani, pemerintah akan terus mengevaluasi kebijakan fiskal agar tidak tertinggal untuk bisa menarik investasi asing ke dalam negeri. “Kita tentu akan terus dan harus me-refine policy kita agartidak tertinggal dan tidak kalah dari sisi kemampuan menarik investasi dan mendorong ekspor,” tutupnya.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini