JAKARTA - Kementerian Pertanian (Kementan) secara aktif melakukan upaya modernisasi pertanian dengan pengembangan teknologi pertanian, mulai dari perbenihan, cara tanam, perhitungan pola tanam berbasis IT, hingga mekanisasi.
Pertanaman dan panen komoditas utama seperti padi dan jagung secara khusus dikembangkan pemanfaatan mekanisasi dengan alat mesin pertanian (alsintan) modern.
Selama 4,5 tahun terakhir, pemerintah telah melaksanakan pengadaan alsintan dalam jumlah besar dan menggunakan alokasi anggaran yang besar pula. Kementan sebagai kementerian yang telah mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) sebanyak 3 tahun berturut-turut, terbukti berhasil mengelola pengadaannya dengan baik.
"Kami sadar anggaran yang dipergunakan sangat besar, untuk itu kami memastikan sistem yang digunakan pun akuntabel dan efisien terhadap keuangan negara. Kami juga terus menjaga integritas petugas yang menangani ini,” ujar Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman di Jakarta, Senin (1/7/2019).
Baca Juga: Kementan: Efisiensi Lewat E-catalog, Belanja Alsintan Hemat Rp1,2 Triliun
Amran mengatakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengamanahkan agar anggaran kementerian dikelola dengan baik dan mengedepankan efisiensi. Untuk meningkatkan efisiensi, Kementan telah menggunakan e-catalog, yaitu layanan pengelolaan memfasilitasi pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa berbasis teknologi informasi dan teknologi (TIK).
Tender Elektronik Lebih Efisien
Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Sarwo Edhy memyampaikan e-catalog merupakan bentuk komitmen Kementan dalam melakukan digitalisasi pengadaan.
“Jadi pembelian apapun langsung ke pabrik, harga murah, dan datang tepat waktu. Semuanya karena e-catalog. Dengan cara ini harga juga turun, kemudian saya akumulasi pertahun penghematan anggaran sangat drastis,” ungkap Edhy.
Edhy juga menyampaikan bahwa pengadaan barang dan jasa untuk alsintan pra panen dan pasca panen 4 tahun terakhir melalui e-catalog telah menghemat anggaran negara hingga Rp1,2 triliun. Penghematan terhadap pengadaan alsintan pra panen yaitu traktor roda 2, traktor roda 4 sebesar dan rice transplanter sebesar Rp1,096 triliun serta penghematan pengadaan alsintan pasca panen yaitu combine harvester sebesar Rp120 miliar.
Baca Juga: Kementan Minta Bantuan Alsintan Dikelola Secara Profesional
Sebagai gambaran pemanfaatan e-katalog untuk alsintan pertanian, sebelum menggunakan e-katalog untuk traktor roda dua per unitnya harganya Rp26 juta, tahun 2015, setelah e-katalog harga menjadi Rp23 juta pada tahun 2016. begitupula dengan traktor roda empat (35-50hp) di tahun 2015 tanpa e-katalog Rp367 juta- menjadi Rp326 juta. Penghematan juga terjadi pada pengadaan rice transplanter dan combine harvester.
“Harga rice transplanter sebelum implementasi e-catalog senilai Rp 76 juta, sementara pada saat pemberlakuan e-catalog tahun 2015, harganya menjadi lebih murah yaitu senilai Rp 63 juta. Begitu pun untuk combine harvester besar, dari Rp 380 juta menjadi Rp 337 juta,” papar Edhy.