Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Garuda Terdepak dari Daftar 10 Maskapai Top Dunia, Ada Apa Lagi?

Rani Hardjanti , Jurnalis-Selasa, 02 Juli 2019 |12:27 WIB
Garuda Terdepak dari Daftar 10 Maskapai Top Dunia, Ada Apa Lagi?
Garuda Okezone (okezone)
A
A
A

JAKARTA - PT Garuda Indonesia Tbk tengah menjadi sorotan banyak pihak belakangan ini. Yang menghebohkan akhir pekan lalu, maskapai pelat merah ini, serta Auditor dan Kantor Akuntan Publik (KAP) diganjar sanksi. Tidak tanggung-tanggung, yang memvonis adalah Kementerian Keuangan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI).

Setelah ramai soal sanksi di laporan keuangan, terkuak bahwa Bos Garuda pun rangkap jabatan di maskapai penerbangan swasta. Namun, sebelum sanki itu dijatuhkan peringkat Garuda sudah lebih dulu terperosok dalam jajaran maskapai top dunia atau Skytrax World Airline Awards 2019. Garuda Indonesia harus turun tiga peringkat ke posisi 12 dalam pemeringkatan yang diberikan Skytrax tahun ini. Pada tahun lalu, Garuda bertahan di peringkat 9.

 Baca juga: Laporan Keuangan Dibidik, Menteri Luhut: Garuda dari Dulu Banyak Masalah

Ranking ini menandakan posisi terendah Garuda sejak tahun 2012. Padahal, Garuda sempat mencapai posisi tertinggi di peringkat 7 pada 2014.

 Pesawat Garuda

Bahkan di tingkat Asia Tenggara (Asean) Garuda Indonesia hanya menjadi maskapai terbaik nomor tiga. Garuda berada di bawah Singapura Airlines dan juga Thai Airways

Menanggapi kemerosotan peringkat tersebut, VP Corporate Secretary Garuda Indonesia M Ikhsan Rosan menjelaskan, bahwa penghargaan World Airline Awards yang diadakan oleh Skytrax merupakan acara penghargaan yang dilakukan berdasarkan survei pelanggan secara global.

Baca Juga : Kronologi Kasus Laporan Keuangan Garuda Indonesia hingga Kena Sanksi

"Tahun ini, Perseroan mendapatkan beberapa award dari Skytrax World Airline Awards, antara lain Garuda Indonesia Best Airline Staff in Indonesia dan Best Cabin Crew in Indonesia," ujar M Ikhsan, dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), seperti dikutip Selasa (2/7/2019).

Kendati demikian, M Ikhsan mengakui Garuda akan tetap berkomitmen untuk selalu melakukan inovasi dan peningkatan layanan guna memberikan pelayanan yang terbaik bagi pelanggan baik dalam lingkup domestik maupun internasional.

 Baca juga: DPR Bakal Panggil Garuda Bahas Rangkap Jabatan hingga Lapkeu

Seperti diketahui, bahwa Garuda Indonesia tengah berusaha meningkatkan pelayanan pelanggan. Salah satu yang dilakukan adalah menggandeng Mahata Aero Teknologi, yang akan meningkatkan pengalaman baru bagi pelanggan, sebagaimana penerbangan dunia sudah banyak yang menyediakan layanan WiFi on board. Dalam kerjasama ini, kedua belah pihak menyepakati konsep zero investment dan revenue sharing.

Namun, kerja sama itu justru berbuah polemik.

Baca juga: KPPU Periksa Dirut Garuda Indonesia, Masalah Apa?

Dalam laporan keuangan Garuda Indonesia untuk tahun buku 2018. Garuda Indonesia Group membukukan laba bersih sebesar USD809,85 ribu atau setara Rp11,33 miliar (asumsi kurs Rp14.000 per dolar AS). Angka ini melonjak tajam dibanding 2017 yang menderita rugi USD216,5 juta. Pasalnya, Garuda Indonesia memasukan keuntungan dari PT Mahata Aero Teknologi yang memiliki utang kepada maskapai berpelat merah tersebut. PT Mahata Aero Teknologi sendiri memiliki utang terkait pemasangan wifi yang belum dibayarkan.

Mengendus ada hal yang tidak beres, dua komisaris Garuda Indonesia yakni Chairal Tanjung dan Dony Oskaria (saat ini sudah tidak menjabat), menganggap laporan keuangan 2018 Garuda Indonesia tidak sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK).

 Baca juga: KPPU Pastikan Adanya Pelanggaran Bos Garuda yang Rangkap Jabatan

Garuda

Mahata juga sempat dituding sebagai perusahaan 'ghaib'. Namun hal ini ditepis oleh Direktur Teknik dan Layanan Mahata Global Group Iwan Joeniarto. Dia menegaskan, bahwa perusahaan start up tersebut telah bekerjasama dengan sejumlah perusahaan multinasional.

"Mahata ini start up company tapi punya bisnis model yang bagus karena diakui secara internasional setelah kita telisik Mahata, bagian dari Mahata Global Group yang total bisnisnya USD640,5 juta. Dia (Mahata) memberikan bisnis model revenue sharing yang akan datang dari advertising mulai dari konektivitas WiFi, hiburan dan content management," ujar Iwan.

Walhasil, Garuda Indonesia harus dihadapkan sejumlah sanksi baik dari pemerintah maupun regulator pasar modal.

Baca Juga : Ini Sederet Sanksi Garuda Indonesia Akibat Pelanggaran Laporan Keuangan

(Fakhri Rezy)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement