nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jumlah Orang Kaya di Dunia Berkurang, Apa Penyebabnya?

Koran SINDO, Jurnalis · Rabu 10 Juli 2019 08:58 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 07 10 320 2076901 jumlah-orang-kaya-di-dunia-berkurang-apa-penyebabnya-0zvyLJmr36.jpg Orang Kaya (Shutterstock)

LONDON – Jumlah orang kaya pada 2018 ternyata menunjukkan penurunan sebesar 3% di bandingkan tahun sebelumnya. Sekitar satu juta orang di dunia kehilangan status sebagai orang kaya.

Para miliarder di seluruh du nia telah kehilangan USD2 triliun (Rp28.240 triliun) dalam setahun. Penelitian yang dilaksanakan Capgemini dalam World Wealth Report menunjukkan, orang disebut kaya setelah memiliki kekayaan lebih dari USD1 juta.

Penurunan jumlah orang kaya hanya 0,9% dari penduduk dunia karena berkurangnya kekayaan mereka. Apa penyebabnya?

 Baca juga: Rich Millenial, Ini Brand dan Harga Atribut yang Kerap Digunakannya

“Ekonomi global yang bergejolak, konflik perdagangan internasional, dan perhatian internasional terhadap kebijakan moneter, menjadi penyebab penurunan jumlah miliarder,” demikian keterangan Capgemini yang merilis World Wealth Report kemarin.

 Orang Kaya

“Para miliarder tidak kebal terhadap dampak perdagangan global yang tidak jelas,” kata Wakil Presiden Kepala Digital untuk Perbankan di Capgemi, Cliff Evans, dilansir Forbes.

“Kita tidak memisahkan miliarder, tetapi saya tidak berpikir mereka kebal dari hal ini. Kita melihat banyak penurunan dan mereka adalah bagian dari kepentingan global,” jelasnya.

 Baca juga: Rich Millenial, Kehidupan Liar CEO Twitter Jack Dorsey yang Tak Disangka-sangka

Kemudian, orang kaya yang memiliki kekayaan lebih dari USD30 juta juga mengalami penurunan kekayaan pada 2018. Jumlah mereka berkurang 4% dan kekayaan mereka berkurang 6%. Banyak diantaranya miliarder. Forbes mendaftar sebanyak 247 miliarder yang mengalami pe nurunan kekayaan. Itu menjadi jumlah penurunan kekayaan yang paling tinggi sejak 2009.

Kekayaan para miliarder memang turun-naik. Dalam catatan Capgemini, penurunan kekayaan para miliarder juga pernah terjadi pada 2011 saat krisis utang Eurozone berkembang. Saat itu, banyak orang kaya di Eropa terguncang. Penggunaan pesawat pri badi juga mengalami penurunan di sana. Jumlah kekayaan miliarder saat itu menurun hingga USD500 miliar.

Namun, untuk saat ini ke kayaan para miliarder Asia juga mengalami penurunan yang sangat dramatis. Total kerugian para miliarder di Asia hingga USD1 triliun dalam kurun waktu 2017 hingga 2018. Seperempat miliarder yang mengalami kerugian berada di China.

 Baca juga: 5 Fakta Rich Millenial, Gunakan Teknologi Perkaya Diri?

“Pasar China kehilangan lebih dari USD2,5 triliun nilai pasar karena ketidakjelasan hu bungan AS-China dan tekanan terhadap yuan,” demikian catatan laporan Capgemini.

Faktor geopolitik di Asia dan Pasifik memang sedang turun naik. Upaya pemulihan ekonomi global juga belum menunjuk kan kejelasan. Di sisi lain, karena dampak perang dagang, orang kaya di AS justru tampil membaik. Jum lah mereka meningkat 0,7% menjadi 5.322 orang kaya pada 2018.

Di Eropa, jum lah orang kaya juga menunjukkan penurunan 0,5%. Khusus di Inggris, penurunan mi liar der hanya 3% karena per tum buh an ekonomiInggris me mang lumpuh karena faktor Brexit sehingga menciptakan ketidakpastian pasar.

Dalam pandangan James Bartons yang menjalankan perusahaan investasi Feather stone, 2018 merupakan tahun di mana pasar ekuitas dan pasar obligasi bereaksi sangat keras. “Itu merusak aset,” ujarnya. Dia mengungkapkan, manajemen kekayaan juga menjadi masalah. “Manajer investasi tidak bisa bekerja maksimal tahun lalu,” imbuhnya.

Baca juga: Kemampuan Belanja Rp1 Triliun, Miliarder Pilih Pesawat Pribadi

Penurunan jumlah orang kaya tidak menunjukkan terbentuknya kesetaraan. Pasalnya, sebagian besar jumlah uang yang hilang karena performa saham, khususnya selama kuartal IV/2018. Konflik perdagangan internasional juga menguat karena kebijakan moneter di seluruh dunia.Penurunan harga saham dan perdagangan internasional memperketat kebijakan moneter tidak berarti adanya pembagian kekayaan yang lebih baik. Faktanya, banyak kasus menunjukkan kekayaan mem perkuat belanja dan amal yang juga menunjukkan penurunan selama ketidak pastian ekonomi dan politik. Hal itu sangat berlaku di China.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini