nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

RI Butuh Utang, BI: Harus Dikelola dengan Hati-Hati

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Selasa 23 Juli 2019 22:25 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 23 20 2082753 ri-butuh-utang-bi-harus-dikelola-dengan-hati-hati-eSLrwvw7en.jpg Ilustrasi Uang Rupiah (Foto: Okezone)

JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatatkan utang luar negeri (ULN) menjadi sumber pembiayaan kedua terbesar bagi Indonesia. Hal ini menandakan, perekonomian domestik memang tak bisa lepas dari utang luar negeri.

Baca Juga: Semakin Berkurang, Utang Pemerintah Capai Rp4.570 Triliun di Juni 2019

Data BI menunjukkan, pembiayaan perekonomian (tidak termasuk pembiayaan ke sektor keuangan) hingga Juni 2019 tercatat sebesar Rp9.093 triliun. Di mana kredit bank umum mendominasi dengan besaran Rp5.228 triliun, tumbuh 10,05% yoy (year on year).

Kemudian, posisi kedua utang luar negeri perekonomian melalui ULN mencapai Rp2.133 triliun, tumbuh 10,5% yoy. Adapun yang ketiga pendanaan berasal dari pasar modal sebesar Rp922 triliun, tumbuh 8,09 yoy.

Baca Juga: Mei 2019, Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp5.374 Triliun

Melihat data tersebut, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Mirza Adityaswara menyatakan, Indonesia memang membutuhkan utang luar negeri untuk mendorong perekonomian. Namun, hal itu harus dikelola dengan kehati-hatian (prudent).

"Jadi bisa enggak negara ini hidup tanpa ULN? Memang negara ini membutuhkan ULN, tapi harus dikelola dengan hati-hati," ungkapnya di Kantor Pusat BI, Jakarta, Selasa (23/7/2019).

Mirza menyatakan, Indonesia memang memerlukan dana dari luar negeri untuk pembangunan, sebab pendanaan dari dalam negeri saja tak akan cukup. Maka diperlukan juga pengelolaan ekonomi yang hati-hati untuk semakin memikat investasi asing.

"Jadi (ULN) memang dibutuhkan tapi harus di kelola hati," tekannya.

Selain dari penyaluran kredit umum, utang luar negeri, dan pasar modal, sumber pembiayaan perekonomian Indonesia juga berasal dari industri keuangan non bank (IKNB) sebesar Rp698 triliun, atau tumbuh 9,28% yoy.

Kemudian dari kredit Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebesar Rp105 triliun, atau tumbuh 10,84% yoy. Serta dari fintech sebesar Rp8,3 triliun, tumbuh signifikan sebesar 274,73% yoy.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini