nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pentingnya Memahami Risiko dalam Berinvestasi

Sabtu 27 Juli 2019 09:38 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 26 278 2083977 pentingnya-memahami-risiko-dalam-berinvestasi-ViVeEapbPT.jpg Ilustrasi: Foto Shutterstock

JAKARTA - Tak ada investasi yang tak berisiko. Di balik keuntungan yang merupakan motif utama berinvestasi, risiko akan selalu mengiringinya. Itulah sebabnya kita sering mendengar istilah yang sangat familiar: high risk, high return.

Itulah prinsip dasar yang harus benar-benar dipahami sebelum seseorang memutuskan untuk menyalurkan dana untuk kepentingan investasi.

Prinsip itu berlaku di mana pun seseorang berinvestasi, entah membangun usaha, patungan modal dengan kolega usaha, maupun investasi melalui aneka portofolio di pasar modal.

 Baca Juga: Buka Rekening Efek Tak Ribet, Kabar Baik Buat Milenial

Tak ada kompromi soal prinsip itu, apalagi untuk investasi melalui portofolio di pasar modal. Bahkan tidak bisa dipastikan sejauh mana risiko kerugian yang harus ditanggung, pun demikian dengan tingkat keuntungan yang bisa diraih.

Jika ada investasi yang menjanjikan keuntungan semata, tanpa risiko, atau bahkan memastikan sejumlah keuntungan investasi yang akan diraih dengan besaran yang fantastis dan tidak masuk akal (misalnya jauh di atas rata-rata suku bunga deposito), maka Anda patut meragukannya.

Bahkan sebaiknya Anda berpikir seribu kali dan mengabaikan tawaran seperti ini, karena bisa jadi Anda sedang terjebak praktik investasi bodong. Apabila Anda menemukannya, segera laporkan langsung kepada pihak berwenang yaitu OJK.

 Baca Juga: Peran KAP pada Keabsahan Laporan Keuangan Perusahaan Tercatat

Seperti kita ketahui, dalam berinvestasi, tentunya investor atau calon investor yang ingin berinvestasi di pasar modal sudah tentu didorong motif meraih keuntungan, baik invetasi jangka panjang maupun trading untuk jangka pendek. Jika berinvestasi pada instrumen saham, melekat dua peluang keuntungan.

Pertama, saham menawarkan peluang keuntungan dari dividen, yaitu sebagian laba yang dibagikan kepada pemegang saham dengan nilai tertentu. Kedua, capital gain atau keuntungan dari selisih nilai beli dengan nilai saham saat dijual.

 Pekan Kedua Bulan Juli, IHSG Merosot 0,19 Persen

Penetapan besaran dividen lazimnya melalui mekanisme Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Dividen dapat diberikan dalam dua bentuk yakni dividen tunai dan dividen saham. Dividen tunai berupa uang dibagikan kepada pemegang saham berdasarkan porsi kepemilikan.

Sementara dividen saham adalah keuntungan yang diberikan perusahaan dalam bentuk penyertaan baru yang otomatis akan meningkatkan jumlah saham pemiliknya.

Dalam hal dividen, penting diketahui bahwa tidak semua saham dapat memberikan dividen karena bisa saja rapat pemegang saham tidak menyetujui pembagian dividen dengan pertimbangan ada peluang lebih membesarkan perusahaan dari ekspansi usaha.

Akibatnya, porsi keuntungan dialokasikan untuk menunjang investasi perusahaan. Dividen juga gagal didapatkan bila laba perusahaan sangat minim, bahkan merugi karena ada kegagalan pemasaran.

Sementara itu, capital gain diperoleh investor jika seorang investor membeli saham perusahaan A dengan harga Rp1.200 per lembar sebanyak 5 lot, lalu menjual kembali pada saat harga naik menjadi Rp1.700 per lembar, maka keuntungan yang diraup senilai Rp500 per lembar. Itu berarti 500 lembar (1 lot = 100 lembar) dikalikan Rp500, dengan demikian nilai capital gain saja sebesar Rp250.000. Sehingga total dana di tangan sebesar Rp3.000.000 ditambah Rp250.000.

Nilai keuntungan berpeluang lebih besar jika modal awal untuk membeli saham jauh lebih besar. Adapun risiko yang merupakan lawan dari capital gain, yakni capital loss. Saham yang dibeli bisa saja karena kegagalan usaha, atau semata karena rumor, lalu menyebabkan harga saham turun saat Anda hendak melepas saahm tersebut.

Namun risiko ini bisa diminimalisir dengan keputusan untuk menahan atau tidak menjual pada saat harga sedang turun, sehingga yang terjadi hanyalah potential loss, karena kerugian yang belum terealisasi.

Di samping risiko tidak memperoleh dividen dan risiko capital loss, risiko lainnya yang perlu dipahami adalah risiko pailit dan risiko delisting. Jika terjadi pailit, posisi pemegang saham adalah pada urutan terakhir untuk mendapatkan hak, setelah seluruh kewajiban atau utang perusahaan dipenuhi.

Sedangkan jika terjadi risiko delisting, maka pemegang saham tidak dapat mentransaksikan saham tersebut di pasar sekunder namun masih menjadi pemegang saham perusahaan tersebut dimana sudah tidak ada lagi peran Bursa Efek Indonesia di dalamnya.

Delisting dikelompokkan menjadi dua yaitu forced delisting yang disebabkan karena faktor kepatuhan perusahaan tersebut terhadap peraturan yang berlaku di pasar modal, dan voluntary delisting yang disebabkan karena keinginan perusahaan sendiri untuk melakukan go private.

Berbagai risiko tersebut bisa saja terjadi, dan perlu diantisipasi. Karena itu, prospek usaha, rekam jejak pengelola dan pemegang saham pendiri, maupun track record kinerja perusahaan patut menjadi pertimbangan utama sebelum seorang investor membuat keputusan investasi.

Manfaatkan segala informasi dan riset yang tersedia untuk meminimalisir berbagai risiko yang bisa saja terjadi atas investasi Anda. Jika saham yang Anda beli berasal dari pasar perdana, pastikan Anda membaca prospektus Perusahaan dalam menawarkan saham melalui mekanisme penawaran umum atau Initial Public Offering (IPO). (TIM BEI)

1
3

Berita Terkait

BEI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini