Boeing Berpotensi Hentikan Produksi 737 MAX

Jum'at 26 Juli 2019 10:14 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 26 320 2083766 boeing-berpotensi-hentikan-produksi-737-max-6yY2CMMmBV.jpg Boeing (Reuters)

NEW YORK - Boeing Co membuka kemungkinan penghentian produksi pesawat 737 MAX jika terus mengalami kendala dari regulator global untuk kembali mengudara.

Chief Executive Officer (CEO) Boeing Dennis Muilenburg yakin 737 MAX dapat kembali beroperasi paling cepat pada Oktober, tapi untuk pertama kali Boeing mungkin harus mengurangi atau sepenuhnya menghentikan produksi 737 MAX.

Boeing berupaya memulihkan kepercayaan konsumen pada 737 MAX dan memenuhi persyaratan sejumlah regulator dengan memprogram ulang software yang menjadi faktor utama dalam dua kecelakaan mematikan dalam lima bulan.

Baca juga: Boeing Rugi Rp41 Triliun di Kuartal II-2019 Imbas 737 Max Disetop

”Ini momen menentukan bagi Boeing,” ungkap Muilenburg kepada para pengamat, dilansir Reuters.

 Boeing 737 Max

Dia menjelaskan, Boeing telah melakukan komunikasi teknis dan sejumlah konferensi dengan para operator MAX di penjuru dunia dan hampir 225 sesi dalam tes simulator penerbangan untuk softwarenya. Komentar Muilenburg itu muncul setelah perusahaan meng umumkan kerugian terbesar dalam satu kuartal, mencapai hampir USD3 miliar, serta harus mengeluarkan dana hing ga USD1,01 miliar pada kuartal itu.

Para investor telah menduga besarnya kerugian itu setelah Boeing mengumumkan besarnya berbagai tagihan pekan lalu, membuat total biaya untuk krisis 737 MAX itu mencapai lebih dari USD8 miliar, terutama untuk kompensasi pada berbagai maskapai atas penundaan pengiriman dan pengurangan produksi.

 Baca juga: Boeing 737 MAX Tak Akan Angkut Penumpang hingga 2020

Saham Boeing segera melemah hingga 3% setelah pengumuman laporan keuangan kuartal II/2019 itu. Apalagi Muilenburg juga menyebutkan kemungkinan pengurangan produksi lebih lanjut atau menghentikan produksi pesawat itu untuk sementara.

Perusahaan yang berbasis di Chicago itu tak dapat mengirimkan satu pun pesawat baru 737 MAX sejak penghentian operasional secara global pada Maret lalu setelah dua kecelakaan fatal di Indonesia dan Etiopia yang menewaskan total 346 orang.

Muilenburg menyatakan, perusahaan akan mempertimbangkan pemangkasan output 737 lebih lanjut di bawah level sekarang 42 pesawat per bulan atau potensi penghentian produksi jika permasalahan terus berlanjut. Langkah penghentian produksi ini tak pernah dilakukan Boeing sejak 1997 saat perusahaan menghentikan pro duksi 747 dan menunda pengenalan model baru 737.

 Baca juga: FAA Temukan Masalah Baru pada Boeing 737 MAX

Boeing telah mengurangi jumlah produksi pesawat lorong tunggal itu di Seattle menjadi 42 pesawat per bulan dari sebelumnya 52 pesawat setelah kecelakaan di Etiopia. Namun, penundaan pengiriman 737 ke berbagai maskapai memangkas sumber utama dana dan memukul laba.

Pengiriman yang lebih sedikit berarti Boeing harus membayar lebih banyak untuk suku cadang yang harganya ditetapkan sesuai volume pembelian Boeing. Boeing menyatakan pernah menargetkan membuat 57 pesawat 737 per bulan pada 2020.

Produsen pesawat terbesar di dunia itu juga melaporkan penundaan baru pada program pesawat berbadan lebar 777X karena masalah mesin General Electric Co harus menunda penerbangan pertama hingga 2020.

Pesawat 777-9 merupakan jet terbaru dalam keluarga 777 yang awalnya dijadwalkan terbang pertama kali pada kuartal IV/2018 dengan pengiriman ke konsumen pertama pada kuartal II/2020, menurut rencana sertifikasi Boeing yang dilihat Reuters.

Boeing juga harus menjual lebih banyak pesawat kargo 777 untuk menghindari penurunan output akibat penundaan 777X. Namun, Muilenburg mengharapkan sinyal permintaan pasar yang kuat, meski ada konflik perdagangan global.

Penghentian operasional 737 MAX menjadi tekanan bagi seluruh industri pesawat dan menunda peluncuran pesawat baru Boeing dengan lorong gan da. Pesawat 737 MAX tidak hanya penting bagi upaya Boeing melawan Airbus di pasar penerbangan jarak jauh, tapi juga menjadi fondasi untuk pengem bangan pengganti 737.

Muilenburg menyatakan per usahaan memiliki prioritas utama untuk kembali menerbangkan 737 MAX. ”Kita tidak menjalankan lini masa buatan apa pun,” papar dia merujuk pada keputusan tentang kapan me nerbangkan kembali 737 MAX.

Chief Financial Officer (CFO) Boeing Greg Smith menyatakan kompensasi yang dibayarkan kepada berbagai maskapai pengguna 737 MAX dapat menekan pendapatan dan laba pada 2019 dan selanjutnya.(Koran Sindo)

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini