nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menilik Kesiapan Kopi Bajawa untuk Mendunia

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 26 Juli 2019 14:20 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 07 26 320 2083884 menilik-kesiapan-kopi-bajawa-untuk-mendunia-Dl4wqUa04I.jpg Ilustrasi Kopi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemerintah tengah mendorong produk kopi Bajawa asal Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk bisa merambah pasar internasional. Kopi merupakan salah satu komoditas yang menjadi ekspor andalan Indonesia.

Direktur Jenderal Pekebunan Kementerian Pertanian (Kementan) Kasdi Subagyono mengatakan, kopi memang salah satu komoditas yang ingin dikembangkan lagi pengelolaannya. Sebab, kopi asal Indonesia menjadi salah satu paling diminati oleh pasar dunia.

“Atas nama pemerintah pusat memberikan apresiasi kepada Kabupaten Ngada yang mengangkat kopi dan saya berharap bisa mendunia. Kopi ini salah satu program kami di Kementan untuk kita angkat kembali,” ujarnya dalam acara Investor Forum yang bertajuk "Aroma Kopi Ngada Siap Taklukkan Dunia" di Rafflesia Ballroom, Balai Kartini, Jakarta, Kamis (25/7/2019) malam.

Baca Juga: Banten Miliki Potensi Penghasil Kopi Terbaik

Kasdi menambahkan, nantinya pemerintah akan terus menyiapkan dari sisi hulu maupun hilirnya. Dari sisi hulu, pihaknya telah menyiapkan program BUN 500 yaitu penyiapan 500 juta batang benih unggul perkebunan dalam 5 tahun ke depan.

Tujuan dari program tersebut adalah untuk meningkatkan produktivitas petani, sehingga jumlah dan kualitas produk yang dihasilkan menjadi lebih banyak dan baik. Lewat program ini juga nantinya lahan yang sudah tidak berfungsi dan menggantinya dengan yang baru dan berkualitas.

Untuk mendapatkan yang berkualitas, nantinya pemerintah akan memberikan benih unggul kepada para petani. Sebagai bahan acuan, rata rata jumlah produksi kopi baru menyentuh 0,78 ton ton per hektare (ha), dari angka tersebut 0,3 ton per ha sangat memprihatinkan.

Baca Juga: Terbang ke Prancis, Menko Darmin Buka Peluang Ekspor Kopi

“Peremajaan atau replanting tersebut adalah upaya jangka panjang untuk meningkatkan pendapatan petani. Karena menurut data yang kami terima, saat ini rata-rata jumlah produksi kopi baru menyentuh angka 0.78 ton per hektar. Bahkan, ada yang 0.3 ton per hektar. Ini sangat memprihatinkan," jelasnya.

Di sisi hilirnya, pemerintah juga akan membangun sentra-sentra bisnis di dekat lahan pertanian kopi. Sehingga hasil produksi petani bisa segera dipasarkan tanpa menunggu lama.

“Dalam program ini kita mendekatkan sentra benih dan pengembangan. Kita akan membangun luxury dan sumber benih yang kita kembangkan di sana. Kami di pusat sudah mengembankan peta kawasan pertanian untuk peternakan kebetulan saya ditugaskan di situ dan basisnya harus korporasi dan basisnya harus kluster,” jelasnya.

Sementara itu, Deputi Fasilitasi Hak Kekayaan Intelektual dan Regulasi (HAKI) Badan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia (Bekraf) Ari Juliano Gema mengatakan, pihaknya mendukung upaya kopi Bajawa untuk mendunia melalui sertifikasi produk kopi asal Kabupaten Ngada. Lewat sertifikasi ini kopi Bajawa akan dilindungi hak kepemlikannya

“Karena tidak boleh ada orang di luar Bajawa yang memproduksi kopi dan mengaku ngaku dari ngada enggak boleh nanti akan kena hukuman,” ucapnya.

Kopi Bajawa sendiri saat ini sudah terdaftar di Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) sejak 2018 lalu. Pengajuan sertifikasi Kopi Bajawa sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 2010 lalu.

“Kayanya tadi 2010 baru dapetnya sekitar 2018 karena prosnya dokumennya terus menerus diperbarui dan kemudian diajukan secara lengkap,” kata Ari.

Sementara itu, Bupati Ngaja Paulus Soliwoa menyambut baik ide kerjasama yang diinisiasi oleh Kementerian Pertanian. Menurutnya, saat ini, Kabupaten Ngada memang membutuhkan bantuan yang bersifat jangka panjang.

Hal ini tidak terlepas dari masih banyaknya lahan pertanian yang masih belum dimaksimalkan. Setidaknya ada 3 kecamatan yang hingga saat ini belum difungsikan secara maksimal. Mulai dari Kecamatan Golewa dengan luas lahan mencapai 1.250 ha, Kecamatan Golewa Barat 3.500 ha, dan Kecamatan Bajawa 1.097 ha.

Selain kopi, ada beberapa produk unggulan juga yang akan dipasarkan ke negara lain. Seperti kain tenun dan juga objek wisata yang tersebar di wilayah Flores tersebut.

“Sudah bersepakat dengan mereka (investor) akan ke Bajawa untuk melihat potensi. Mereka akan memperluas bagaimana melihat potensi pariwisata lainnya,” ucapnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini