BUMN RI Garap Proyek di Laos, Berikut Daftarnya

Feby Novalius, Jurnalis · Rabu 28 Agustus 2019 17:58 WIB
https: img.okezone.com content 2019 08 28 320 2097787 bumn-ri-garap-proyek-di-laos-berikut-daftarnya-zkKomhIodJ.jpeg Kerjasama BUMN dengan Laos. (Foto: Okezone.com/Kementerian BUMN)

JAKARTA - Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan mengerjakan empat proyek di Laos. Hal tersebut diketahui usai Menteri BUMN Rini M Soemarno menerima delegasi Pemerintah Laos di Kantor Kementerian BUMN.

Asal tahu saja, kunjungan ini sebagai tindaklanjut dari pertemuan Menteri Rini dengan Perdana Menteri (PM) Republik Demokratik Rakyat Laos Thongloun Sisoulith dan penandatanganan nota kesepahaman kerja sama antara sejumlah BUMN Indonesia dengan Phonsavanh Group di Vientiane, Laos pada 25 Juni 2019 lalu.

Baca Juga: Siap-Siap, BUMN Masih Butuh 7.690 Pegawai Baru

Kunjungan ini juga hasil tindaklanjut dari pertemuan Perdana Menteri Laos dengan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Indonesia pada 2017 lalu. Salah satu topik utama pertemuan tersebut yakni membahas mengenai potensi kerjasama kedua negara di bidang bisnis, perdagangan dan investasi.

“Kami sepakat untuk meningkatkan hubungan kerja sama bisnis antara Indonesia dan Laos. Kemarin, kami ke sana melihat potensi kerjasama yang bisa ditingkatkan. Empat proyek akan menjadi fokus kita bersama-sama. Saya pikir kerja sama ini sangat bagus dan harus segera direalisasikan. Saya berharap Indonesia dan Laos akan jadi rekan kerja dalam perdagangan di dunia Internasional,” ujar Menteri Rini, dalam keterangannya, Rabu (28/8/2019).

BUMN Garap Proyek di Laos

Kerja sama bisnis yang tengah dijajaki yakni pada bidang pertambangan. PT Pupuk Indonesia (Persero) bersama PT Timah Tbk melakukan kerja sama dengan Petrotrade, entitas dari Phonsavanh Group.

PT Timah Tbk dengan Petrotrade menjajaki kerja sama eksplorasi area pertambangan prospektif hingga proses pengolahan. Eksplorasi dari pertambangan yang akan dilakukan tersebut salah satunya bertujuan untuk menemukan sumber baru bahan baku pupuk NPK yaitu KCl (Kalium Klorida).

Baca Juga: Terima 3.310 Pegawai Baru, Menteri Rini Ingin BUMN Jadi Pemain di Pasar Global

Untuk hal itu, PT Pupuk Indonesia siap andil sebagai offtaker yang akan menyerap bahan baku pupuk tersebut. Adapun PT Bukit Asam Tbk yang tengah penjajakan kerjasama jual beli batubara dengan Petrotrade.

Penjajakan bisnis yang dilakukan ini sejalan dengan rencana PT Pupuk Indonesia (Persero) untuk pengembangan pupuk NPK melalui proyek NPK 2,4 juta ton. Selama ini, jenis bahan baku KCl memang masih harus diimpor karena tidak dapat diperoleh di Indonesia, bahan baku KCl dari Pupuk Indonesia Grup banyak didatangkan dari negara Eropa Timur, salah satunya Belarusia. Dengan potensi tambang KCl di Laos yang sangat besar, maka harga dan biaya distribusinya akan jauh lebih efisien.

Sejak dilakukannya MoU pada Juni lalu, sejumlah BUMN sepakat untuk melakukan kerja sama, antara lain PT Timah yang akan menggarap potensi tambang di Laos dan di bidang pertanian PT Perkebunan Nusantara bersama PT Pupuk Indonesia juga akan menjalin kerjasama dengan Phaiboun Trading Import and Export.

(fbn)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini