nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

7 Fakta Menarik Fintech Mulai Gilas Perbankan

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Minggu 29 September 2019 08:38 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 09 27 320 2110110 7-fakta-menarik-fintech-mulai-gilas-perbankan-kz6t6RqKnm.jpg Fintech Sikat Bank (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Industri financial technology (fintech) mulai menjajah bisnis perbankan. Fenomena ini sudah sangat nyata di kehidupan sehari-hari masyarakat. Contohnya, lebih mudah meminjam uang di fintech dibandingkan di bank.

Jika tidak melakukan inovasi, perbankan disebut Menteri Keuangan Sri Mulyani akan punah seperti dinosaurus.

 Baca Juga: Sri Mulyani Tak Ingin Perbankan Punah seperti Dinosaurus

Tanda-tanda kepunahan perbankan sudah bisa dilihat dari banyaknya pegawai bank di-PHK hingga bank tersebut tutup karena sudah tidak menjalankan bisnis dengan baik. Ditambah lagi keberadaan fintech sudah 'menggilas' bisnis bank.

Berikut fakta-fakta fintech menggilas bisnis perbankan seperti dirangkum Okezone, Jakarta, Minggu (29/9/2019):

1. BI Beberkan Bukti Fintech 'Sikat' Layanan Perbankan

Bank Indonesia menyebut industri financial technology (fintech) mulai menjajah bisnis perbankan. Hal ini dibuktikan dengan sudah tersediannya beberapa layanan perbankan di perusahaan fintech ini.

 Baca Juga: Kalah Lawan Fintech, Perbankan Bakal Ditinggal Nasabah

Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta mengatakan, salah satu contohnnya adalah transaksi pengiriman uang yang saat ini sudah tidak lagi mengandalkan perbankan. Pasalnya sudah ada aplikasi uang elektronik yang memberikan kemudahan.

"Memang fintech share-nya masih kecil, tapi kita lihat potensinya dari itu, growth-nya sangat tinggi. Teknologi, preverensi dari masyarakat dan otoritas," ujar Fili saat ditemui di Jakarta Convention Center Senayan.

2. Pertumbuhan Fintech

Memang saat ini perbankan masih mendominasi hingga 80% layanan dan akses keuangan. Namun, pertumbuhan fintech yang meningkat sangat cepat harus menjadi perhatian khusus.

 Baca Juga: Fintech Bisa Kalahkan Popularitas Perbankan

Berdasarkan data Bank Indonesia, layanan transfer perbankan juga terus mengalami penurunan. Sedangkan layanan uang eletronik terus meningkat.

"Jangan dibandingkan (fintech) dengan perbankan. Tapi kalau dulu hampir 55% transfer bank, sekarang turun jadi 46%. Justru sekarang uang elektronik (porsi) 23% dari 11%," ucap Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia (BI) Filianingsih Hendarta.

 Fintech

3. Sektor Pembayaran Semakin Strong Buat Agen Fintech Terus Tumbuh

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menyebut Financial Technology alias layanan Keuangan Berbasis Digital (Fintech) bisa meningkatkan inklusi keuangan. Bahkan akselerasi keterjangkauan akaes keuangan untuk masyarakat juga menjadi lebih mudah.

Menurut Darmin, hal ini sangat membantu pemerintah yang ingin membuka layanan akses keuangan seluas-luasnya kepada masyarakat. Karena saat ini diakui Darmin, masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan akses keuangan.

"Kita notice beberapa perusahaan di Indonesia meningkat. Terutama di sektor pembayaran dan lending market. Strong growth bisnis ini membuat banyak fintech agent tumbuh," ujarnya dalam acara Indonesia Financial Summit Expo 2019 di JCC Senayan.

4. Menko Darmin Sebut Fintech Pekerjaan di Masa Depan

Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan adanya inovasi terutama dalam peningkatan kualitas SDM demi kemajuan fintech adalah investasi bagi masa depan sebab di era digital pekerjaan akan cepat berubah karena perkembangannya bersifat eksponensial.

“Ekonomi digital secara khusus adalah job masa depan. Ada yang tinggal enggak muncul lagi, ada yang baru dan akan lahir lagi. Fintech adalah salah satu area di mana job masa depan terus diciptakan,” katanya.

 Fintech

5. Kalah Lawan Fintech, Perbankan Bakal Ditinggal Nasabah

Deputi Direktur Produk, Aktivitas, dan APU PPT OJK Tris Yulianta menilai perbankan akan terpengaruh dengan disrupsi dari era digital teknologi dalam revolusi industri 4.0 jika tidak menyikapi secara tepat dan cepat.

"Apakah perkembangan digital akan menyebabkan disruption bagi perbankan? Iya jika kita tidak menyikapi. Sebab, perilaku konsumen berubah. Teknologi digital membuka kompetisi, kedatangan fintech juga membuka persaingan. Ini harus disikapi,” ujarnya.

Menurut Tris, perubahan perilaku konsumen menuntut perbankan untuk lebih adaptif dengan teknologi digital. Karena jika tidak, maka perbankan akan bisa ditinggal nasabah. Selaku regulator, OJK berupaya untuk membuat aturan yang mampu mengikuti perkembangan zaman.

Untuk itu, OJK telah menyusun Peraturan OJK (POJK) Nomor 12/2018 yang salah satunya bertujuan untuk mendukung efisiensi operasional, meningkatkan layanan, dan mengadopsi teknologi TI.

 

6. Fintech Bisa Kalahkan Popularitas Perbankan

Perkembangan financial technologi (Fintech) alias sistem keuangan berbasis digital terus menunjukan tajinya. Indsutri ini lewat peer to peer lending (P2P) menjadi penantang kuat dari industri keuangan lainya termasuk perbankan.

Deputi Komisioner OJK Sukarela Batunanggar mengatakan. P2P lending saat ini menjadi primadona khusunya bagi kalangan UMKM. Bahkan dirinya meyakini jika Fintech P2P Lending bisa menggeser popularitas dari perbankan.

Apalagi P2P lending ini memiliki berbagai macam keunggulan yang tidak dimiliki oleh perbankan. Salah satunya kemudahan dalam memberikan pinjaman tanpa agunan dengan cepat pula.

"Fintech akan mendominasi jasa keuangan. Kalau perbankan punah enggak, tapi fintech bisa unggul karena iru perkembangan fintech akan dilindungi," ujarnya.

 Fintech

7. Sri Mulyani Tak Ingin Perbankan Punah seperti Dinosaurus

 

Menteri Keuangan Sri Muyani Indrawati meminta kepada seluruh industri perbankan untuk bisa menyesuaikan dengan cepat (adaptasi) dengan perubahan teknologi.

Sebab jika tidak cepat beradaptasi, maka lama kelamaan industri perbankan ini bisa cepat tergerus dengan bisnis-bisnis lainya yang sudah lebih dulu menggunakan teknologi.

Sri Mulyani mengaku tidak ingin jika nasib perbankan akan berakhir seperti hewan purba seperti Dinosaurus. Kepunahan Dinosaurus memang masih belum diketahui penyebabnya, namun bisa jadi kepunahan hewan purba ini juga dikarenakan tidak mampu beradaptasi dengan zaman yang semakin hari semakin maju ke depan.

"Perbanas (harus) bisa memahami perubahan teknologi dan meng-absorb sehingga bisa merembes ke seluruh sistem perbankan dan sektor keuangan, sehingga mereka tidak mengalami nasib seperti dinosaurus dan punah," ujarnya.

1
4

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini