nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tantangan Besar di Era Industri 4.0, Semua Harus Serba Cepat

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 07 Oktober 2019 10:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 10 07 320 2113684 tantangan-besar-di-era-industri-4-0-semua-harus-serba-cepat-LL0NmG9lnl.jpg Industri 4.0 (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Kementerian Perindustrian terus mendorong penggunaan teknologi pada pabrik-pabrik yang ada di dalam negeri. Hal ini sejalan dengan program revolusi industri 4.0 yang dijalankan oleh pemerintah.

Staf Khusus Menteri Bidang Investasi dan Hubungan Antar Lembaga Kementerian Perindustrian I Gusti Putu Suryawirawan mengatakan, penggunaan teknologi digital diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan industri baja dalam negeri.

 Baca Juga: RI Pamer Kekuatan Industri 4.0, Fokus ke 5 Sektor Ini

Hal tersebut dia sampaikan dalam kunjungan ke Pabrik PT Tata Metal Lestari yang berlokasi di Kawasan Industri Delta Silicon, Lippo Cikarang Kabupaten Bekasi, beberapa waktu lalu.

"Kita melakukan kunjungan ke Pabrik PT Tata Metal Lestari, yang sudah menerapkan industri 4.0, ciri-cirinya adalah adanya peralatan yang terhubung dengan sensor-sensor. Di mana input data tidak lagi manual, tapi sudah menggunakan peralatan elektronik," ujarnya melalui keterangan tertulis, Senin (7/10/2019).

 Baca Juga: China Bikin Matahari Buatan dan Jepang Menuju Industri 5.0, Indonesia di Mana?

Dengan adanya teknologi informasi yang terintegrasi antar peralatan, hal ini diharapkan bisa membuat produktifitas meningkat. Tak hanya itu, produk-produk yang dihasilkan juga semakin berkualitas.

“Di era globalisasi sekarang ini persaingan semakin ketat. Permintaan konsumen juga semakin beragam, semuanya harus bisa dipenuhi dengan cepat agar konsumen tidak beralih ke produk lain," jelas I Gusti.

 Industri 4.0

Hasil produksi baja di Indonesia dalam setahun hanya 7 juta ton lokal. Sedangkan kebutuhan pertahun mencapai 13 hingga 14 juta ton total, yang diaplikasikan untuk konstruksi, otomotif, peralatan elektronika, rumah tangga dan lain sebagainya.

"Untuk memenuhi kebutuhan baja, mau tidak mau, harus ada impor baja dari luar negeri," kata I Gusti.

Namun agar tidak berdampak pada industri dalam negeri, I Gusti menegaskan, pemerintah melalui Kementrian Perindustrian dan Kementrian perdagangan sudah mengeluarkan berbagai aturan dalam rangka pengendalian impor.

"Treading dan spekulasi akan dibatasi. Kemudian, ada pengetatan penerapan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang sifatnya wajib, dan adanya tindakan hukuman, berupa pajak tinggi dengan pola safeguard atau antidumping," jelasnya.

Pabrik PT Tata Metal Lestari merupakan pabrik continuous coating line untuk baja lapis zinc-alumunium yang rencananya akan beroperasi secara resmi pada 9 Oktober 2019.

 Industri 4.0

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini