Share

Percakapan Menko Luhut di White House Terungkap ke Medsos

Rani Hardjanti, Jurnalis · Selasa 08 Oktober 2019 13:37 WIB
https: img.okezone.com content 2019 10 08 320 2114240 percakapan-menko-luhut-di-white-house-terungkap-ke-medsos-MOCpfybtiY.jpeg Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Percakapan Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan di White House, Washington DC, terungkap ke media sosial (medsos). Percakapan tersebut membahas soal Presiden Joko Widodo.

Percakapan itu terjadi pada Jumat 4 Oktober 2019 pagi. Menko Luhut memang tengah melakukan kunjungan ke sejumlah negara. Diawali ke Abu Dhabi, Shanghai Tiongkok, Seoul Korea Selatan, dan terakhir ke Amerika Serikat.

Baca Juga: Cerita Menko Luhut Dipanggil Jenderal oleh Putra Mahkota Abu Dhabi

Percakapan yang terungkap adalah saat Menko Luhut melakukan perbincangan dengan menantu Presiden Trump. Seperti apa? Berikut ini selengkapnya, seperti dikutip dari postingan Menko Luhut di Facebook, Selasa (8/10/2019).

Di Washington DC saya bertemu dengan 5 orang senator dari partai republik maupun demokrat dan Jared Kushner menantu Presiden AS Donald Trump.

luhut

Harus bertatap muka langsung dengan orang-orang Amerika yang tengah menduga bahwa Indonesia sudah lebih condong ke Tiongkok, membuat saya berpikir betul bagaimana caranya berkomunikasi dengan efektif.

Saat bertemu mereka, akhirnya saya putuskan untuk berbicara langsung tembak saja. Mungkin gaya bicara saya lebih mirip tentara daripada seorang diplomat.

Contohnya kepada para senator saya langsung bertanya, “Saya dengar Anda merasa ragu dengan kami. Itu sama sekali tidak perlu karena kami adalah negara yang terlalu besar untuk berpihak kepada salah satu kekuatan yang ada. Itu saya jamin dan itu sikap Presiden Jokowi yang kami para pembantunya terapkan dalam tugas.”

Begitulah bahasa saya kira-kira jika diterjemahkan. Selain itu saya juga secara terbuka mengatakan bahwa mereka sendiri kurang proaktif dalam menjalin kerja sama.

Baca Juga: Pamit ke DPR, Menko Luhut: Ini Pertemuan Terakhir

Kalian tidak pernah datang ke tempat kami. Padahal kami bukan negara miskin, kami tidak pernah minta-minta,” terang saya sembari menjelaskan mengenai baiknya kondisi ekonomi Indonesia dan banyaknya peluang investasi.

Pertanyaan yang straight to the point juga saya ajukan kepada Jared Kushner, ”Sekarang Anda mau apa dari Indonesia?”

Pertemuan terakhir itu berlangsung di White House pada hari Jumat Minggu lalu jam 8.30 waktu setempat. Kesan saya, menantu presiden Trump ini sangat baik. Pemuda yang baru berusia hampir 40 tahun itu menjemput saya yang sedang berada di ruang tunggunya.

luhut

Pembicaraan saya buka dengan menyampaikan bahwa Presiden Jokowi begitu memiliki kesan positif terhadap Trump. Mendengar itu Jared langsung menimpali, “You know what, my father inlaw loves him very much. Presiden Jokowi is a very good leader in the emerging markets.”

Suasana yang begitu akrab membuat gaya bicara langsung tembak saya makin keluar, “Kalau kau cinta, cinta apa. Buktikan cintamu dengan berinvestasi di Indonesia. Kami bekerjasama dengan siapa pun, termasuk Tiongkok atau Uni Emirat Arab, atau negara manapun. Lantas kenapa kita tidak?”.

”Setuju,” responsnya terhadap tawaran saya yang juga mencakup kemungkinan kerja sama perdamaian di Timur Tengah yang seharusnya melibatkan Indonesia sebagai negara dengan jumlah penduduk beragama Islam terbesar di dunia.

Sebagai bentuk tindak lanjut, Jared akan mengutus Adam Boehler selaku CEO International Development Finance Corporation (IDFC) untuk bertemu saya dan Menkeu Ibu Sri Mulyani di Indonesia pada pertengahan bulan Oktober ini.

Kami akan membicarakan hal teknis mengenai pengalokasian sebagian dari dana investasi USD60 miliar yang dikelola IDFC untuk masuk ke Indonesia.

Baca Juga: Soal Ibu Kota Baru, Menko Luhut: Kalau Tak Mau Pro Kontra ke Surga Aja

Jared juga setuju untuk membantu satu orang wakil dari Indonesia untuk dapat menjadi Wakil Presiden World Bank, atau di jabatan selevel Director yang dulu pernah disandang oleh Bu Sri Mulyani.

Ada satu kesamaan yang saya lihat sepanjang pertemuan dengan Amerika ataupun UEA. Yaitu adanya rasa hormat kepada Indonesia dan khususnya kepada Presiden Joko Widodo. Hal itu membuat pekerjaan saya menjadi jauh lebih mudah.

luhut

Sembari terus mengikuti perkembangan di Tanah Air selama perjalanan dinas, saya kadang-kadang merenung ketika melihat demonstrasi-demonstrasi yang berujung ricuh. Istilahnya kita seperti menembak kaki kita sendiri, padahal di luar sana orang lain begitu menaruh respek pada Republik ini.

Akhir kata saya mengajak semua teman-teman untuk saling menyebarkan kebaikan. Bicara tentang kepemimpinan Presiden Joko Widodo, saya melihat banyak sekali yang sudah Beliau berikan untuk Republik ini. Tentu ada kurang atau lebihnya di sana sini, karena Beliau bukan manusia yang sempurna."

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini