Contohnya kepada para senator saya langsung bertanya, “Saya dengar Anda merasa ragu dengan kami. Itu sama sekali tidak perlu karena kami adalah negara yang terlalu besar untuk berpihak kepada salah satu kekuatan yang ada. Itu saya jamin dan itu sikap Presiden Jokowi yang kami para pembantunya terapkan dalam tugas.”
Begitulah bahasa saya kira-kira jika diterjemahkan. Selain itu saya juga secara terbuka mengatakan bahwa mereka sendiri kurang proaktif dalam menjalin kerja sama.
Baca Juga: Pamit ke DPR, Menko Luhut: Ini Pertemuan Terakhir
“Kalian tidak pernah datang ke tempat kami. Padahal kami bukan negara miskin, kami tidak pernah minta-minta,” terang saya sembari menjelaskan mengenai baiknya kondisi ekonomi Indonesia dan banyaknya peluang investasi.
Pertanyaan yang straight to the point juga saya ajukan kepada Jared Kushner, ”Sekarang Anda mau apa dari Indonesia?”
Pertemuan terakhir itu berlangsung di White House pada hari Jumat Minggu lalu jam 8.30 waktu setempat. Kesan saya, menantu presiden Trump ini sangat baik. Pemuda yang baru berusia hampir 40 tahun itu menjemput saya yang sedang berada di ruang tunggunya.

Pembicaraan saya buka dengan menyampaikan bahwa Presiden Jokowi begitu memiliki kesan positif terhadap Trump. Mendengar itu Jared langsung menimpali, “You know what, my father inlaw loves him very much. Presiden Jokowi is a very good leader in the emerging markets.”
Suasana yang begitu akrab membuat gaya bicara langsung tembak saya makin keluar, “Kalau kau cinta, cinta apa. Buktikan cintamu dengan berinvestasi di Indonesia. Kami bekerjasama dengan siapa pun, termasuk Tiongkok atau Uni Emirat Arab, atau negara manapun. Lantas kenapa kita tidak?”.