nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Curhat Menko Darmin, Sektor Pertanian Paling Ruwet

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 18 Oktober 2019 19:43 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 10 18 320 2118831 curhat-menko-darmin-sektor-pertanian-paling-ruwet-aF6cGAWkvW.jpeg Menko bidang Perekonomian Darmin Nasution (Foto: Okezone.com/Yohana)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berkisah mengenai pengalamannya selama lima tahun terakhir di periode kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK). Sebagai menteri koordinator yang berfokus pada isu-isu ekonomi, Darmin menyebut, sektor pertanian menjadi yang paling bermasalah.

Hal itu diungkapkannya saat kumpul bersama beberapa menteri yang berada di bawah Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, sebagai momen terakhir menutup masa jabatan pemerintahan periode 2014-2019. Di antaranya hadir Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, serta Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Triawan Munaf.

Baca Juga: Hari Terakhir Kerja, Menko Darmin "Ngeteh" Bareng Sri Mulyani hingga Airlangga Hartarto

"Ada beberapa komoditas yang memang paling ruwet persoalannya, tapi intinya memang sektor pertanian," ujar Darmin di Kemenko Perekonomian, Jumat (18/10/2019).

Dia menyatakan, ada tiga komoditas utama yang selalu penuh polemik, yakni beras, gula, dan daging sapi, di samping ada juga persoalan bawang putih dan telur ayam. Umumnya persoalan tersebut terkait harga yang melonjak di pasaran. Meski demikian, masalah daing sapi menurutnya sudah berhasil diselesaikan dengan dilakukan impor, sehingga pasokan melimpah dan bisa menekan harga.

Menko Darmin

"Dua tahun pertama (masa jabatan) memang yang paling pusing daging, tapi sudah tidak karena kita buat kebijakan pokoknya impor daging sebanyak-banyaknya supaya harga rendah," kisah Darmin.

Dia juga mengakui, mengambil sebuah keputusan dalam rapat koordinasi sering kali sulit dilakukan, lantaran adanya perbedaan pendapat dari setiap pihak. Utamanya terkait data yang akurat mengenai ketersediaan komoditas di pasaran dan jumlah produksi dari panen.

"Sehingga menteri yang satu bilang ini sudah kurang (komoditas tidak ada di pasar), yang lain bilang enggak, karena di tempat sana panennya banyak," katanya.

Salah satu kasus yang memang paling banyak disoroti karena perbedaan data adalah komoditas beras. Akhir tahun lalu, pemerintah memutuskan untuk melakukan impor beras sebanyak 2 juta ton sebagai putusan akhir dari polemik harga beras yang terus melonjak.

Pada saat itu, sempat terjadi perdebatan antara Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita yang menyebut tidak adanya pasokan beras di pasaran sehingga harga melonjak. Namun, Menteri Pertanian Amran Sulaiman berkilah jika stok beras mencukupi, sebab produksi beras dalam negeri sangat banyak, bahkan surplus.

Darmin Nasution dan Yasonna Bicara Perbaikan Iklim Usaha dan Revitalisasi Hukum

Kala itu, Darmin yang mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut, produksi beras hingga akhir tahun 2018 akan mencapai 32,4 juta ton, memang mengalami surplus 2,85 juta ton. Tapi itu sangat rendah dari kebutuhan Indonesia yang pada umumnya surplus di angka 20 juta ton.

Belum lagi, lanjutnya, dari jumlah surplus itu tentu sebagian digunakan oleh 4,5 juta keluarga petani yang menyimpan stok beras untuk kebutuhannya, rata-rata per keluarga menyimpan 5-10 kilogram. Hal ini membuat stok beras yang ada di pasar sangat kurang dari kebutuhan. Alasan tersebut jadi dasar Darmin memutuskan untuk impor, guna mengisi pasokan di pasar sehingga menekan harga.

"Memang begitu saya kesimpulannya kurang, lalu impor, habis saya dicaci maki seluruh Indonesia. Itu risikonya. Tapi bisa dilihat inflasi tetap terjaga di kisaran 3,2% hingga 3,3% di setiap tahunnya. Belum pernah Indonesia menikmati stabilitas seperti ini, terjadi dalam waktu lima tahun berturut-turut," jelas dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini