nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

BI: Ekonomi Global Cuma Tumbuh 3% di 2020 kalau Perang Dagang Berlanjut

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Kamis 31 Oktober 2019 17:21 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 10 31 20 2124206 bi-ekonomi-global-cuma-tumbuh-3-di-2020-kalau-perang-dagang-berlanjut-TqX3XPLzbs.jpg Gubernur BI Perry Warjiyo (Foto: Okezone)

JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, pertumbuhan ekonomi global hanya akan mampu mencapai 3% di tahun 2020 jika perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China terus berlangsung. Itu merupakan skenario terburuk yang mungkin terjadi bila tak ada kesepakatan antar kedua negara dengan ekonomi terbesar di dunia.

AS dan China memang tengah merencanakan pertemuan pada November 2019 untuk membahas hubungan perdagangan antara keduanya. Pelaku pasar pun menantikan hasil dari pertemuan tersebut yang diharapkan terdapat kesepakatan untuk meredam perang dagang.

Baca juga: Buat Reformasi Ekonomi, Peringkat Kredit Yunani Membaik ke BB-

"Kami akan cermati perkembangan ekonomi global. Karena kita tidak tahu Amerika-China akan sepakat atau memburuk. Kalau memburuk, tahun depan ekonomi global mungkin tidak sampai 3,1%, bisa 3% hingga 2,9%," ujar Perry dalam acara CEO Networking 2019 di Ritz Carlton, Jakarta, Kamis (31/10/2019).

Pada dasarnya BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global bisa mencapai 3,1% pada tahun 2020 jika terjadi perbaikan hubungan dagang antara AS dan China. Proyeksi ini lebih rendah dari perkiraan Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) yang sebesar 3,4%.

perry

Untuk tahun ini, BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3%, sama dengan perkiraan IMF.

"Asumsinya perang dagang USD250 miliar (pengenaan tarif untuk barang impor dari China ke AS) yang sudah ada, kemudian rencana 25% kenaikan tarif (barang dari China), itu tidak kemudian diperburuk lagi. Semoga terjadi kesepakatan antara AS dengan China bulan depan," ujar dia.

Baca juga: Peluang Investasi di Tengah Perang Dagang

Perry menyatakan, untuk menghadapi kondisi gejolak ekonomi global, BI masih membuka peluang untuk melonggarkan kebijakan menjadi lebih akomodatif. Pelonggaran itu bisa dilakukan melalui kebijakan suku bunga, relaksasi makroprudensial, ataupun penurunan Giro Wajib Minimum (GWM).

"Instrumen-instrumen itu terbuka ruang untuk lebih akomodatif. Tapi kapan dan bagaimana kebijakannya, akan kami cermati dari perkembangan ekonomi global," ungkap Perry.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini