nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ada 144 Fintech Terdaftar dan Mendapat Izin OJK

Hairunnisa, Jurnalis · Minggu 10 November 2019 21:12 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 11 10 320 2128058 ada-144-fintech-terdaftar-dan-mendapat-izin-ojk-X3IR5IhBln.jpg Fintech (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat financial Technology (fintech) yang terdaftar dan berizin mencapai 144 perusahaan per 30 Oktober 2019.

Sebelumnya hanya terdapat 127 perusahaan, lalu terdapat penambahan 17 penyelenggara fintech yang sudah terdaftar. Demikian dikutip dalam keterangan resmi OJK, Jakarta, Minggu (10/11/2019).

 Baca Juga: 1.773 Fintech Ilegal Disetop Satgas Investasi hingga Oktober 2019

17 fintech tersebut yakni DUMI, Dynamic Credit Asia, Pundiku, TEMAN PRIMA, OK!P2P, DOEKU, Finsy, Mopinjam, BANTUSAKU, KlikCair, AdaModal, KONTANKU, IKI Modal, ETHIS, Kapital Boost, PAPITUPI SYARIAH, dan Berkah Fintek Syariah.

"OJK mengimbau masyarakat untuk menggunakan jasa penyelenggaran fintech peer to peer lending yang sudah terdaftar/berizin dari OJK" tulis OJK.

 Baca Juga: Transaksi Jasa Keuangan Digital Asean Ditaksir Tembus USD38 Miliar

Sebelumnya, Satgas Waspada Investasi telah berhasil menghentikan 1.773 entitas atau perusahaan fintech peer to peer lending. Di mana perusahaan tersebut tanpa izin Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga Oktober 2019.

 Fintech

Hal itu, disampaikan oleh Ketua Satuan Tugas Waspada Investasi Tongam L Tobing pada seminar nasional tentang perlindungan konsumen pinjaman fintech di Jakarta.

"Sepanjang tahun 2018 hingga Oktober 2019, kami (Satgas) sudah menghentikan 1.773 entitas fintech peer to peer lending tanpa izin OJK," ujar dia, Selasa (29/10/2019).

Menurut dia, masalah yang sering muncul dari bisnis pinjaman online ilegal adalah perusahaan tidak terdaftar, bunga pinjaman tidak jelas, dan alamat peminjaman tidak jelas dan berganti nama. Selain itu, media yang digunakan di mana pelaku fintech peer to peer lending ilegal tidak hanya menggunakan Google Play Store untuk menawarkan aplikasi.

"Tapi juga link unduh yang disebar melalui SMS atau dicantumkan dalam situs milik pelaku," tutur dia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini