Hunian Vertical Dinilai Cocok untuk Pembangunan Rumah di Ibu Kota Baru

Adhyasta Dirgantara, Jurnalis · Kamis 14 November 2019 13:53 WIB
https: img.okezone.com content 2019 11 14 470 2129771 hunian-vertical-dinilai-cocok-untuk-pembangunan-rumah-di-ibu-kota-baru-0k4iA0xGfg.jpg Hunian Vertical Dinilai Cocok untuk Pembangunan Rumah di Ibu Kota Baru. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Banyak kota di dunia memiliki satu permasalahan yang sama, yakni kemacetan. Rupanya, dua penyebab utama kemacetan adalah transportasi dan perumahan.

Untuk itu, permasalahan ini harus segera diselesaikan, terutama bagi pemerintah Indonesia yang sebentar lagi akan mewujudkan ibu kota baru yang modern.

Baca Juga: Pemindahan Ibu Kota, Jakarta Dirancang seperti New York

Mantan Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Andrinof Chaniago mengatakan, pemerintah perlu merencanakan masyarakat baik dari segi transportasi maupun perumahan.

"Merencanakan pembangunan manusia dan masyarakat itu tak kalah penting untuk wujudkan impian untuk jadikan kita punya kota modern. Nah yang harus diperhatikan adalah perencanaan masyarakatnya baik transportasi maupun perumahan," ujar Andrinof di Hotel Redtop, Jakarta, Kamis (14/11/2019).

Infografis Pemindahan Ibu Kota

Indonesia pernah memproyeksikan Kota Batam menjadi seperti Singapura. Namun, sayang gagal terealisasikan, karena banyaknya bangunan atau perumahan yang menjamur secara liar.

"Kalau kita biarkan bangunan liar tumbuh, nanti menjamur. Itulah yang membuat wajah Batam gabisa buat niru Singapura," tuturnya.

Baca Juga: Kementerian PUPR Jadi yang Pertama Pindah ke Ibu Kota Baru

Dengan demikian, Mantan Bappenas ini memiliki saran bagi pemerintah, khususnya untuk perumahan. Dia menyarankan agar pembangunan rumah di ibu kota baru dirancang vertikal, bukan horizontal.

"Saran saya rancang perumahan yang vertikal. Betul-betul great area ini dijaga dan diperhatikan. Kalau tidak memungkinkan vertikal, ya setidaknya seperti Kota Eropa di Barcelona," saran Andrinof.

Pasalnya, Andrinof memperingatkan pemerintah agar tidak membiarkan horizontal house atau landed house dibangun. Sebab, yang dampak yang ditimbulkan dari horizontal house sangat luas, seperti kemacetan dan perekonomian masyarakat.

"Kalau kita biarkan orang bebas membangun horizontal house, kota itu akan macet. Warga kelas menengah bawah bakal mengeluarkan biaya lebih besar untuk biaya transportasi. Maka dari itu merencanakan kota baru ini besar sekali orientasinya ke depan, seperti menyediakan transportasi, fasilitas umum," tegasnya.

Selain itu, Dia juga memberi contoh nyata dari pembangunan vertical house. Kebanyakan negara yang mengadopsi vertical house biasanya lepas dari kemacetan.

"Singapura, Taipei, Tokyo, Hong Kong itu gak macet loh karena 80% huniannya vertikal, maka jalan tersedia, ruang publik tersedia. Untuk hunian soalnya didorong ke atas. Kalau landed bakal memakan lahan banget dan mengurangi persediaan lahan untuk persediaan publik lain seperti lapangan, taman kota, drainase," sebutnya.

"Kalau bikin perumahan jangan hanya mikirin cara DP 0% tapi harus pikirkan efek buat layanan publik yang lain. Hunian di kota itu harus didominasi hunian vertikal. yang membuat biaya transportasi itu murah adalah model hunian vertikal. Orang akan tinggal dekat dari kantor. Kalau didukung dengan transportasi masal yang tercukupi, maka masyarakat sejahtera karena kota sehat dengan polusi rendah, biaya transportasi berkurang, waktu jadi terpangkas," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini