nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Impor Turun Tajam, Neraca Perdagangan Oktober Surplus USD161,3 Juta

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 15 November 2019 10:33 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 15 20 2130164 impor-turun-tajam-neraca-perdagangan-oktober-surplus-usd161-3-juta-HxozNyJcsx.jpg Rilis BPS Neraca Oktober 2019 (Foto: Okezone.com/Yohana Artha Uly)

JAKARTA - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan neraca perdagangan mengalami surplus tipis yakni USD161,3 juta pada Oktober 2019. Realisasi ini membaik dari posisi neraca perdagangan Oktober 2018 yang mengalami defisit sebesar USD1,75 miliar.

Begitu pula bila dibandingkan secara bulanan, mengalami perbaikan dari September 2019 yang tercatat defisit USD163,9 juta.

 Baca juga: Bagaimana Nasib Neraca Dagang Oktober 2019? Ini Prediksinya

Meski tercatat suprlus namun laju ekspor maupun impor di Oktober 2019 mengalami penurunan dibandingkan realiasi di periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan paling tajam terjadi pada impor, sehingga mendorong terjadinya surplus neraca dagang.

"Menjadi catatan, surplus ini tercipta bukan karena ekspor yang naik, tapi karena impor turun lebih dalam. Ekspor kan juga tercatat turun," ungkapnya dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Jumat (15/11/2019).

 Baca juga: Menanti Data Neraca Perdagangan Oktober 2019

Nilai impor Oktober 2019 tercatat mencapai USD14,77 miliar. Realiasi ini mengalami penurunan tajam sebesar 16,39% dibandingkan dengan Oktober 2018 yang sebesar USD17,67 miliar. Namun bila dibandingkan dengan September 2019 terjadi peningkatan 3,57% dari USD14,26 miliar.

Kemudian nilai ekspor tercatat mencapai USD14,93 miliar. Realisasi ini mengalami penurunan 6,13% dari Oktober 2018 yang mencapai USD15,91 miliar. Tetapi dibandingkan dengan September 2019 mengalami peningkatan 5,92% dari USD14,10 miliar.

 Baca juga: Kumpulkan Menteri Ekonomi, Jokowi Cari Terobosan Tekan Defisit Neraca Dagang

Dia menjelaskan, pergerakan laju ekspor-impor di Oktober 2019 dipengaruhi sejumlah dinamika ekonomi global, di mana perdagangan internasional melemah dan harga komoditas bergerak fluktuatif. Seperti harga minyak mentah Indonesia (ICP) yang tercatat menurun jadi USD59,82 per barel dari September 2019 yang sebesar USD60,84 per barel.

Di samping itu, ada pula komoditas nonmigas yang mengalami penurunan kinerja yakni karet, nikel, dan perak. Serta komoditas nonmigas yang mengalami peningkatan kinerja yakni coklat, batu bara, minyak sawit, juga seng.

"Diharapkan surplus neraca dagang tercipta, karena kinerja ekspor tumbuh dan impor menurun," katanya.

 Baca juga: Defisit Perdagangan, Pengusaha Khawatir Ada Penurunan Daya Beli

Secara rinci, pada komoditas non migas tercatat mengalami surplus USD990,5 juta. Sedangkan pada migas terjadi defisit sebesar USD829,2 juta.

Defisit migas terdiri dari nilai minyak mentah yang mengalami defisit USD237,5 juta dan hasil minyak defisit USD1 miliar. Namun pada gas tercatat surplus USD409,4 juta.

 Baca juga: Menanti Data Neraca Perdagangan September 2019

Adapun sepanjang Januari-Oktober 2019 kinerja neraca perdagangan Indonesia masih tercatat defisit sebesar USD1,79 miliar. Realisasi ini lebih baik dari periode Januari-Oktober 2018 yang defisit sebesar USD5,5 miliar.

Di mana laju komoditas nonmigas sepanjang awal tahun hingga akhir Oktober 2019 tercatat surplus sebesar USD5,48 miliar. Lebih rendah dari posisi akhir Oktober 2018 yang surplus USD5,2 miliar.

Sedangkan untuk komoditas migas tercatat defisit sebesar USD7,2 miliar. Nilai itu lebih baik dari periode yang sama di tahun lalu yang mengalami defisit sebesar USD10,8 miliar.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini