nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Rokok dan Sex Toys Sumbang 7.000 Pelanggaran Bea Cukai, Ini Sederet Faktanya!

Adhyasta Dirgantara, Jurnalis · Minggu 17 November 2019 09:08 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 15 20 2130508 rokok-dan-sex-toys-sumbang-7-000-pelanggaran-bea-cukai-ini-sederet-faktanya-bNYQ9pOyPI.jpg Ilustrasi Rokok (Foto: Okezone.com/Reuters)

JAKARTA - Penerimaan bea dan cukai pada 2019 diprediksi bisa mencapai target. Dengan demikian, penerimaan tahun ini masih akan mencapai target seperti 2 tahun sebelumnya.

Hal ini tak lepas dari Direktorat Jenderal Bea Cukai yang melakukan banyak upaya untuk mengumpulkan penerimaan. Bahkan, pada Desember nanti penerimaan bisa melonjak 2 hingga 3 kali lipat.

"Desember itu penerimaan bisa 2 hingga 3 kali lipat, nilainya bisa Rp30 triliun," kata Direktur Jenderal Bea Cukai Heru Pambudi.

Namun, segala hal tidak selalu berjalan dengan mulus, termasuk penerimaan bea cukai ini. Pasalnya, hingga Oktober 2019, banyak pelanggaran bea dan cukai.

Baca juga: Sisa 1,5 Bulan, Penerimaan Bea dan Cukai Capai Rp165,4 Triliun

Hal ini jelas menyebabkan penerimaan bea cukai jadi terhambat. Menariknya, kebanyakan pelanggaran bea cukai adalah produk hasil tembakau dan sex toys. Dirangkum dari Okezone, Jumat (15/11/2019), berikut beberapa faktanya.

1. Ada 7.000-an pelanggaran bea cukai rokok dan sex toys

Dirjen Bea cukai Heru Pambudi mengungkapkan bahwa ada 10 komoditi besar yang kedapatan melanggar. Data tersebut diambil dari DJBC Kementerian Keuangan.

Bahkan, Bea Cukai menemukan 5.598 kasus pelanggaran produk hasil tembakau sejak awal tahun. Sedangkan, barang pornografi mencapai 1.998 kasus. Jika ditotal maka total pelanggarannya mencapai 7.000-an hanya untuk 2 jenis ini saja.

rokok

2. Produk hasil tembakau yang melanggar kebanyakan rokok dan cairan vape

Heru menjelaskan pelanggaran produk hasil tembakau meliputi rokok dan cairan vape. Banyak rokok dan cairan vape ilegal di seluruh Indonesia baik pabrik hingga wilayah distribusinya.

"Untuk rokok non konvensional ilegal, menyebut pemasarannya banyak dilakukan melalui penjualan e-commerce," kata Heru.

3. Sex toys jadi pelanggar bea cukai kedua terbesar

Menyusul produk hasil tembakau, barang pornografi tercatat terbesar kedua melanggar bea dan cukai. Mayoritas barang pornografi ilegal tersebut diperjualbelikan lewat e-commerce. Barang itu, lantas dikirim melalui jalur pos.

"Tangkapan terbanyak kami lakukan di kantor pos, jadi mereka mendatangkan barang-barang yang dilarang ini melalui e-commerce dan dikirim via kantor pos," katanya.

Terbanyak untuk barang pornografi seperti sex toys hingga majalah. Serbuan barang pornografi ini kebanyakan dari China.

alkohol

4. Minuman alkohol menduduki posisi ketiga

Pada posisi ketiga, terdapat produk Minuman Mengandung Ethyl Alkohol (MMEA) yang mencapai 1.588 kasus. Selanjutnya, kosmetik, obat-obatan, dan bahan kimia mencapai 660 kasus. Untuk produk komestik, mayoritas barang ilegal berasal dari Korea Selatan.

"Kami melakukan kontrol yang ketat karena barang kiriman itu hanya boleh maksimal 10 pieces. Saat ini kami sedang kaji ulang apakah 10 ini terlalu banyak atau tidak," ucapnya.

5. Pabrik rokok kebanyakan di Jateng dan Jatim

Produksi rokok konvensional ilegal ditemukan di Jawa Tengah, yakni Pati, Kudus, dan Jepara, sementara di Jawa Timur, meliputi, Sidoarjo, Madura, Malang, dan Pasuruan. Kemudian pemasaran terbesar rokok ilegal di Sumatera ada di Jambi dan Sulawesi Selatan serta Banjarmasin.

Baca juga: Produk Pemurni Udara Indonesia Masuk Pasar Amarika, Bea Cukai: Kemajuan Bersama

6. Sejauh ini penerimaan bea cukai sudah 80% dari target

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan mencatat penerimaan bea dan cukai sebesar Rp165,46 triliun hingga 12 November 2019. Penerimaan ini tumbuh 9,13% secara year on year (yoy).

Realisasi ini mencapai 79,24% dari target di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 sebesar Rp208,82 triliun.

"Penerimaan bea dan cukai terbaru per 12 November, sudah hampir 80% dari target tahun ini," kata Direktur Jenderal Bea dan Cukai Heru Pambudi.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini