"Bendungan ini sebetulnya dari Desember 2018 sudah 98%, sudah hampir mendekati 100%. Tapi karena di lahan genangannya itu masih ada permasalahan yang terpaksa harus kita selesaikan, kita menunggu 1 tahun, padahal tidak banyak. Saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemprov Banten yang telah mendukung dan memfasilitasi seluruh kegiatan penyediaan tanah," tutur Hari.
Konstruksi bendungan dikerjakan oleh PT PP dan PT Hutama Karya (Persero) dengan total biaya sebesar Rp 458 miliar. Bendungan multifungsi yang memiliki luas genangan sebesar 115 hektar ini bermanfaat besar bagi masyarakat di Kabupaten Serang maupun Kota Serang untuk irigasi di Daerah Irigasi Cibanten seluas 1.289 hektar, pengendalian banjir daerah hilir Kabupaten Serang dan Kota Serang sebesar 50,00 m3/detik, dan tenaga pembangkit listrik 0,4 megawatt.
"Saat ini waktu yang tepat untuk pegisian air karena menurut BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) sudah memasuki musim hujan. Diharapkan dalam waktu sekitar 4 bulan atau awal 2020 sudah terpenuhi air sesuai kapasitas tampungnya dan segera beroperasi. Tapi pesan saya juga harus segera diselesaikan OP-nya (operasional dan pemeliharaan), " ujar Hari.

Dukung Ketahanan Pangan Provinsi Banten
Bendungan Sindangheula merupakan salah satu dari 49 bendungan baru yang dibangun Kementerian PUPR melalui Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian Ditjen Sumber Daya Air dalam periode 2015-2019 sebagai upaya mewujudkan ketahanan air dan kedaulatan pangan di Provinsi Banten. Selain itu Bendungan Sindangheula, Kementerian PUPR juga membangun Bendungan Karian dengan target selesai tahun 2021 dan ada 2 bendungan lain yang masuk readines criteria untuk diusulkan yakni Bendungan Pasir Kopo di Kabupaten Lebak dan Bendungan Cidanau di Kabupaten Serang.
Pembangunan bendungan di Provinsi Banten ditargetkan dengan total volume sebesar 522,60 juta m3 yang diharapkan dapat memiliki manfaat untuk pemenuhan kebutuhan air bersih dan penyediaan air baku sebesar 15,04 m3/detik, irigasi sebesar 44.000 hektar, reduksi banjir sebesar 1.164,22 m3/detik dan potensi pembangkit listrik sebesar 22,20 M.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)