nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Wamen BUMN soal Kebutuhan Energi, di RI Masih Banyak Masyarakat Miskin

Taufik Fajar, Jurnalis · Rabu 27 November 2019 14:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 11 27 320 2135025 wamen-bumn-soal-kebutuhan-energi-di-ri-masih-banyak-masyarakat-miskin-izR3uj2PMO.jpg Wamen BUMN soal Kebutuhan Energi (Foto: Shutterstock)

JAKARTA - Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Budi Gunadi Sadikin ingin seluruh Kementerian/Lembaga yang bergerak di bidang energi tidak hanya berorientasi pada konsep sustainability energy atau energi yang berkelanjutan. Karena masih ada yang lebih penting yakni akses energi kepada masyarakat.

"Saya minta teman-teman yang bergerak di energi bahwa ada isu-isu lain di luar sustainability yang harus diperhatikan. Seperti akses ke energi itu isu yang harus diperhatikan," ujar dia pada Acara Pertamina Energy Forum 2019 di Jakarta, Rabu (27/11/2019).

Baca Juga: Duet Ahok-BGS: Ubah Sistem Bisnis Pertamina

Menurut dia, energi berkelanjutan menjadi isu penting untuk didorong di Indonesia. Tapi isu tersebut biasa dilakukan oleh negara-negara yang memang sudah kaya.

"Sementara di Indonesia sendiri masih terdapat banyak masyarakat miskin," ungkap dia.

Dia mencatat subsidi energi yang diberikan pemerintah saja bisa mencapai kurang lebih Rp150 triliun, meskipun kenyataanya bisa tembus hingga Rp200 triliun. Hal tersebut menunjukan, masyarakat Indonesia belum sepenuhnya bisa mengakses energi.

"Jadi, energi untuk sebagian masyarakat indonesia belum affordable. Belum mudah diakses, kita sudah bilang ke sustainability of energy production, transmition, dan consumption. perlu diperhatikan juga sebelum loncat jauh," tutur dia.

Baca Juga: 6 Fakta Ahok di Hari Pertama sebagai Komut Pertamina

Dia menambahkan, keterbatasan akses energi tidak dirasakan oleh Indonesia sendiri. Namun, berdasarkan data yang ditunjukan dirinya terdapat sebanyak 1,1 miliar orang di dunia yang juga tidak mendapatkan akses energi.

"Bagaimana mau ngomong energi bersih murah kalau tidak dapat akses. Dia (masyarakat) malah tak bisa nyalain lampu, kemudian malah gabisa berikan kesempatan untuk anak-anak belajar lebih pintar. Apabila kepanasan tidak bisa dapat kipas angin dan tidak bisa dapat handpone," pungkas dia.

(dni)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini