Demi Ibu Kota Baru, SDM Konstruksi RI Belajar dari Korea

Giri Hartomo, Jurnalis · Senin 16 Desember 2019 11:26 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 16 470 2142359 demi-ibu-kota-baru-sdm-konstruksi-ri-belajar-dari-korea-uXO3WLpCIB.jpg SDM Konstruksi RI (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mendorong peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang konstruksi melalui program manajemen konstruksi. Apalagi pemerintah tengah merencanakan pemindahan ibu kota dari Jakarta menuju Kalimantan Timur.

Baca Juga: Ibu Kota Baru Punya Jalan Tol Balsam, Ini Update Perkembangannya

Direktur Jenderal Bina Konstruksi Syarif Burhanuddin mengatakan, kualitas SDM sangat krusial perannya terhadap pembangunan ibu kota baru. Apalagi, ibu kota baru ini memiliki konsep modern yang ramah lingkungan.

"Kita berharap (SDM di bidang konstruksi) bisa lebih baik lagi terhadap infrastruktur. Pembangunan ibu kota negara dituntut tenaga yang besar dan ini membutuhkan SDM yang berkualitas," ujarnya di Auditorium Kementerian PUPR, Jakarta, Senin (16/12/2019).

Oleh karena itu lanjut Syarif, pihaknya menyambut baik kerjasama antara Construction Management Association of Korea (CMAK) dan Ikatan Ahli Manajemen Proyek Indonesia (IAMPI). Sebab lewat kerjasama IAMPI dengan CMAK telah bekerja sama menyusun standar operasi dan prosedur manajemen proyek konstruksi untuk meningkatkan kompetensi dan pengetahuan tenaga ahli manajemen proyek konstruksi di Indonesia.

Baca Juga: Ada Ibu Kota Baru, 8 Bendungan Siap Pasok Kebutuhan Air

Manajemen proyek konstruksi berperan penting dalam pembangunan infrastruktur, karena merupakan upaya untuk menghasilkan produk infrastruktur yang berkualitas serta proses konstruksi yang efektif dan efisien.

"Kedua mengapa dengan CMAK ? Karena kita sudah dipayungi oleh MoU. Sudah dipayungi Indonesia dan Korea bahkan tindak lanjutnya sudah beberapa kali," katanya.

Ibu Kota Pindah 

Menurut Syarif, kerjasama ini juga sangat penting dalam menghadapi tantangan industri konstruksi ke depan. Menurut Syarif, saat ini penerapan manajemen konstruksi dan pengawasan konstruksi masih memiliki permasalahan, terutama terkait lingkup tugas, tanggung jawab, dan kewenangannya. Selain itu, permasalahan terkait remunerasi juga perlu mendapat perhatian kita semua.

Permasalahan tersebut, berdampak pada pelaksanaan pengendalian dan pengawasan pekerjaan konstruksi, yang secara otomatis akan mempengaruhi kualitas proses dan hasil pekerjaan konstruksi serta penerapan keselamatan konstruksi. Kondisi ini menimbulkan dampak keterlambatan waktu, tidak terpenuhinya spesifikasi teknis serta beberapa insiden kecelakaan konstruksi yang kita ketahui bersama belakangan ini.

Berdasarkan analisis Tim Komite Keselamatan Konstruksi, salah satu penyebabnya adalah lemahnya manajemen konstruksi di lapangan. Lebih jauh, lemahnya pengendalian dan pengawasan juga dapat berdampak pada terjadinya kegagalan bangunan.

Ibu Kota Pindah

Maka dari itu ketersediaan, kompetensi serta peran aktif personil Manajemen Konstruksi dan Pengawasan Konstruksi menjadi salah satu faktor penentu kesuksesan pembangunan infrastruktur.kerjasama ini terus erlangsung

"Pada hari ini mengapa ada seminar tantangan ke depan jauh lebih besar dibandingkan yang sudah dilewati. Yang dilewati saja ada perubahan perubahan," katanya.

Syarif juga berharap agar kerjasama ini bisa berjalan secara berkelanjutan. Misalnya dengan memberikan pelatihan tenaga konstruksi di dalam negeri mengingat selama ini pelatihan dilakukan dengan mengirim tenaga konstruksi ke negeri gingseng.

"Kita berharap kerjasama ini tidak hanya di Korea tapi diperluas bisa melakukan pelatihan di Indonesia," ucapnya.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini