Share

Bos OJK Masih Cari Jalan Keluar Selamatkan Jiwasraya

Giri Hartomo, Jurnalis · Rabu 25 Desember 2019 15:54 WIB
https: img.okezone.com content 2019 12 25 320 2145943 bos-ojk-masih-cari-jalan-keluar-selamatkan-jiwasraya-XxPfPuHhfG.jpg Wimboh Santoso (Okezone)

JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) buka suara tentang upaya pemerintah untuk menyelamatkan PT Jiwasraya (Persero). Tunggakan Jiwasraya kepada nasabahnya sendiri saat ini mencapai Rp40 triliun.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, kasus ini nantinya akan dijadikan pembelajaran oleh pemerintah. Namun untuk saat ini, fokus utama pemerintah adalah menyelesaikan permasalahan yang menimpa BUMN asuransi ini

 Baca juga: Moeldoko Tegaskan Istana Tak Lindungi Eks Dirkeu Jiwasraya Hary Prasetyo

"Ya enggak apa-apa yang penting kita cari jalan keluar ke depannya sehingga nanti bisa berikan kontribusi kepada masyarakat," ujarnya saat ditemui di Komplek Widya Chandra, Jakarta, Rabu (25/12/2019).

 Wimboh

Sementara itu, khusus untuk kondisi industri perbankan Indonesia secara keseluruhan dirinya menyebut saat ini masih relatif baik dan masih sesuai trek. Jika ada beberapa bank yang berkinerja orang baik menurutnya itu hanya beberapa saja.

 Baca juga: Selamatkan Jiwasraya, Erick Thohir Minta Izin Bentuk Holding BUMN Asuransi

Itupun menurutnya, tidak terlepas dari pengaruh global yang masih belum pasti. Di mana saat ini, kondisi perekonomian global masih belum stabil imbas perang dagang antara Amerika Serikat dengan China.

Selain itu, beberapa negara dunia juga saat ini dihantui oleh resesi ekonomi. Beberapa negara seperti Argentina hingga Turki bahkan sudah mengalami resesi ekonomi.

 Baca juga: Sri Mulyani: Persoalan Jiwasraya Sangat Besar dan Serius

Oleh karena itu seharusnya pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di angka 5% harus disukuri. Karena tidak semuanya negara di Dunia bisa tumbuh sebesar itu termasuk Amerika Serikat.

"Ini kan juga imbas ekonomi dunia, mau enggak mau akan berimbas kepada kita, seluruh dunia. Kita masih mending pertumbuhan (ekonomi) kita di atas 5%, negara lain lebih parah," kata Wimboh.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini