Menurut dia, gempa sintetis ini diambil dari tujuh sumber gempa besar dunia yakni, Big Bear, Chile, Livermore, Michoacan, Miyagi, Sumatera dan Tohoku yang dicocokkan dengan mekanisme gempa yang ada di Jakarta yang disebut Time History Analysis dan non-linier.
"Jadi dengan kondisi melengkung, panjang, dan kaki pilar yang ketinggiannya berbeda jauh sehingga dalam desain gempa tidak bisa menggunakan desain gempa biasa," tutur dia.
Baca Juga: Mengintip Longspan LRT Jabodebek Terpanjang di Dunia
Dia menambahkan, ketahanan struktur desain ini telah melalui perhitungan dengan cara yang paling rumit, sehingga strukturnya nanti aman terhadap gempa.
"Ketahanan struktur ini terhadap gempa sudah dihitung dengan cara yang paling rumit, dengan cara yang memenuhi kaidah-kaidah," pungkas dia.
(Dani Jumadil Akhir)