Kasus Asabri, Menko Luhut: Memang Ada Permainan

Yohana Artha Uly, Jurnalis · Jum'at 17 Januari 2020 13:04 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 17 320 2154221 kasus-asabri-menko-luhut-memang-ada-permainan-pjnASrwmQU.jpeg Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Panjaitan turut berkomentar terkait kasus pengelolaan dana di PT Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Persero) atau Asabri. Luhut sendiri merupakan Jenderal Purnawirawan TNI.

Seperti diketahui, Asabri merupakan BUMN yang bergerak di bidang asuransi sosial dan pembayaran pensiun khusus untuk prajurit TNI, anggota Polri, PNS Kementerian Pertahanan RI.

Dia menyatakan, berdasarkan pembicaraannya dengan Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo, memang terjadi permainan pengelolaan dana investasi di perusahaan tersebut, yang membuat terjadinya kerugian.

Baca Juga: Dirut Asabri: Dana Kelolaan Aman, Tidak Dikorupsi

"Kemarin saya tanya sama Pak Tiko (sapaan akrab Kartika) soal Asabri, memang ada permainan," kata Luhut dalam acara diskusi bersama media di kantornya, Jakarta, Jumat (17/1/2020).

Dia pun mengaku, dengan adanya dugaan korupsi yang terjadi di Asabri tersebut membuat dirinya merasa prihatin. "Tentu sangat sedih melihat ini," imbuhnya.

Menurut Luhut, saat ini pemerintah tengah berupaya untuk membenahi Asabri, guna menghalau tindakan permainan oleh oknum-oknum yang dapat merugikan perseroan.

Baca Juga: Dugaan Korupsi Asabri, Mahfud MD: Saya Dengar Tak Kalah Fantastis dengan Jiwasraya

Dia bilang, Kementerian BUMN saat ini sudah memiliki konsep yang tepat untuk pembenahan di tubuh Asabri.

"Saya lihat ini sudah ada konsepnya untuk lakukan pembenahan," kata dia.

Seperti diketahui, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Polhukam) Mahfud MD menjadi pihak pertama yang mengungkapkan dugaan korupsi di Asabri senilai Rp10 triliun.

"Saya mendengar ada isu korupsi di Asabri yang mungkin itu tidak kalah fantastisnya dengan kasus Jiwasraya, di atas Rp10 triliun," ucap Mahfud di kantornya, Jakarta, Jumat (10/1/2020).

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini