nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fakta Terkini Kasus Jiwasraya, Manipulasi Laporan Keuangan hingga Rencana Penyelesaian

Irene, Jurnalis · Sabtu 18 Januari 2020 09:22 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2020 01 17 320 2154310 fakta-terkini-kasus-jiwasraya-manipulasi-laporan-keuangan-hingga-rencana-penyelesaian-i24W09PWbe.jpg Kantor Jiwasraya (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kasus yang melibatkan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) dikategorikan sebagai kasus korupsi berskala besar. Pasalnya, beberapa lembaga negara sampai harus ikut turun tangan menangani kasus ini.

Penyelesaian kasus besar ini pun tengah ditunggu sebagian masyarakat, khususnya pada sejumlah korban yang merasa dirugikan. Potensi kerugian dari kasus Jiwasraya ini disebut sebesar Rp13,7 triliun.

Oleh karena itu, pada Sabtu (18/1/2020) Okezone telah merangkum fakta terkini terkait kasus asuransi Jiwasraya.

Baca Juga: Benny Tjokro Ditahan, Hanson International Cari Dirut Baru

1. 5 Tersangka Kasus Ditetapkan Kejagung

Pada 15 Januari 2020, Kejaksaan Agung (Kejagung) resmi menetapkan lima orang sebagai tersangka kasus dugaan korupsi dalam pengelolaan keuangandan dana investasi oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Kelima orang tersangka itu antara lain eks Dirut PT Jiwasraya Hendrisman Rahim, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan Jiwasraya Syahmirwan, Komisaris PT Hanson International Benny Tjokrosaputro, Presiden Komisaris dari PT Trada Alam Minera Tbk (TRAM) Heru Hidayat dan eks Direktur Keuangan Jiwasraya Hary Prasetyo.

2. Terungkap Manipulasi Laporan Keuangan

Ketua BPK Agung Firman Sampurna menjelaskan BPK telah melakukan dua kali investigasi pada PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sepanjang tahun 2010 hingga 2019. Hasil pemeriksaan menunjukkan Jiwasraya pernah melakukan modifikasi laporan keuangan pada tahun 2006. Pembukuan yang seharusnya terhitung rugi di modifikasi sedemikian rupa oleh Jiwasraya. Hal ini menunjukkan adanya persoalan tekanan likuiditas di Jiwasraya yang telah berlangsung lama.

Baca Juga: Menko Luhut Usul Tersangka Kasus Jiwasraya Dimiskinkan

"Jadi sebenarnya itu laba semu, akibat dari rekayasa akuntansi atau window dressing, di mana sebenarnya perusahaan telah mengalami kerugian," ungkap Agung

Tidak hanya itu, BPK juga menilai adanya ketidakwajaran dalam pembukuan laba bersih yang dilakukan Jiwasraya pada 2017. Laba bersih yang dibukukan sebesar Rp360,3 miliar dinilai BPK ada kekurangan pencadangan yakni Rp7,7 triliun, sehingga jika pencadangan dilakukan sesuai ketentuan maka perusahaan seharusnya menderita kerugian.

"Lalu pada tahun 2018 Jiwasraya tercatat membukukan kerugian unaudited sebesar Rp15,3 triliun. Serta hingga akhir September 2019 diperkirakan rugi Rp13,7 triliun," katanya.

3. Jiwasraya Miliki Lebih dari 5.000 Transaksi Dalam Kurun Waktu 10 Tahun Terakhir

Kejaksaan Agung menyebut ada lebih dari 5.000 transaksi investasi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero) sepanjang tahun 2009-2018. Transaksi ini menimbulkan masalah tekanan likuiditas di Jiwasraya yang berimbas pada gagal bayar. 5.000 transaksi investasi ini mencakup investasi di reksa dana, sahamdan pengalihan pendapatan. Sebagian besar investasi dilakukan pada saham dan reksadana berkualitas rendah.

Jiwasraya diketahui menempatkan investasi pada saham sebanyak 22,4% senilai Rp5,7 triliun dari aset finansial. Dari jumlah ini, 5% dana ditempatkan pada saham perusahaan dengan kinerja baik dan sebanyak 95% dana ditempatkan di saham yang memiliki kinerja buruk.

Kemudian investasi juga dilakukan pada reksadana sebanyak 59,1% senilai Rp14,9 triliun dari aset finansial. Dari jumlah ini, sebesar 2% dikelola oleh manager investasi Indonesia berkinerja baik (top tier management), sedangkan 98% dikelola oleh manager investasi dengan kinerja buruk.

Baca Juga: Pilih Jadi Menteri atau Pengusaha? Erick Thohir: Saya Pilih Jadi Pengusaha

4. Penyelesaian Dana Nasabah Dilakukan Setelah Tandatangan Holdingisasi

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyatakan rencana pengembalian dana nasabah PT Asuransi Jiwasraya (Persero) akan dilakukan bertahap setelah holdingisasi ditandatangani sekitar akhir bulan Februari. Pembentukan holding ini diperkirakan akan mendatangkan dana segar (cash flow) sekitar Rp1,5 triliun-Rp2 triliun.

"Pembentukan holding itu, juga kalau ditarik 4 tahun ke depan itu bisa sampai Rp8 triliun," kata Erick, dilansir dari laman setkab.

Saat ini Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sedang menyiapkan Peraturan Pemerintah (PP) yang akan menjadi dasar hukum pembentukan holding BUMN Asuransi.

Baca Juga: Salah Investasi, Skandal Jiwasraya yang Bikin Rugi Negara Rp13,7 Triliun

5. PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero) Jadi Induk Holding BUMN Asuransi

"Induknya Bahana. Sekarang sedang proses pembuatan PP-nya," ujar Wakil Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo, Kamis (16/1/2020)

Di bawah holding ini nantinya akan ada perusahaan-perusahaan seperti PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo), Perum Jaminan Kredit Indonesia (Jamkrindo), PT Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo), serta PT Jasa Raharja (Persero).

6. Rencana Merger Jiwasraya

Tidak hanya itu, Erick mengungkap adanya rencana pembentukan anak perusahaan Jiwasraya yaitu Jiwasraya Putra yang digadang akan menyelamatkan Jiwasraya. Pembentukan ini mencapai angka Rp1 - Rp3 triliun.

“Karena itu kan memang salah satu yang kita usulkan juga bagaimana Menteri BUMN juga bisa me–merger ataupun melikuidasi, itu menjadi tupoksinya, tapi Ibu Sri Mulyani sendiri nanti kan untuk menjual atau misalnya penyuntikan,” tambah Erick.

7. Enam Langkah Penyelesaian Kasus Jiwasraya

Okezone merangkum cara yang dapat dilakukan pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan ini. Di antaranya reformasi industri asuransi oleh OJK yaitu perubahan dalam pengaturan, pengawasan permodalan, transparansi laporan keuangan, hingga terkait manajemen risiko.

Restrukturisasi, upaya ini akan segera dilakukan pada akhir bulan ini atau paling lambat Februari 2020. Selanjutnya adalah pembentukan Lembaga Penjamin Polis oleh OJK, tujuan adanya lembaga ini adalah untuk menjamin agar uang nasabah bisa dikembalikan jika terjadi masalah pada perusahaan.

Kemudian ada pembentukan holding BUMN Asuransi yang sedang direncanakan oleh BUMN, pembentukan Pansus oleh DPR dan melepas aset Jiwasraya sehingga nantinya diharapkan dapat menambah keuangan perseroan.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini