nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kalahkan Baht, Rupiah Diramal Jadi Mata Uang Terkuat se-Asia

Irene, Jurnalis · Senin 20 Januari 2020 15:53 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 01 20 278 2155557 kalahkan-baht-rupiah-diramal-jadi-mata-uang-terkuat-se-asia-uqA73Y90YJ.jpg Uang Rupiah. Foto: Ilustrasi Shutterstock

JAKARTA - Menggantikan Baht Thailand yang memiliki kinerja terbaik tahun lalu, mata uang Rupiah digagas akan menempati posisi puncak di tahun ini. Hal ini didukung oleh kerja sama investasi yang terjalin antara Indonesia dengan berbagai negara.

Melansir Bloomberg, Senin (20/1/2020), obligasi mata uang lokal kini menawarkan imbas hasil 5% hingga 8%. Angka ini merupakan prospek yang memikat bagi investor yang ingin melakukan carry trade yang berupaya memanfaatkan perbedaan suku bunga kedua negara.

Baca Juga: Tak Sejalan dengan IHSG, Rupiah Dibuka Melemah Tipis di Rp13.653/USD

Sedangkan bila para investor berani untuk mengeksekusi tanpa melindungi nilai mata uang, mereka akan mendapat imbalan lebih besar jika nilai Rupiah terus naik. Rupiah sendiri telah berjuang selama tujuh minggu berturut-turut karena imbas hasil yang ditawarkan oleh obligasi pemerintah untuk memikat carry traders. Sedangkan bank sentral mengatakan nilai ini akan memungkinkan kenaikan lebih lanjut.

Di lain sisi, para pembuat kebijakan terus berusaha untuk membatasi kenaikan mata uang guna mendukung ekspor. Namun Bank Indonesia pada 10 Januari lalu menegaskan akan menahan diri dari pembatasan kekuatan rupiah selama itu mencerminkan peningkatan ekonomi dan volatilitas dapat dikelola.

Gejolak Politik AS & Iran Berdampak Menguatnya Nilai Rupiah 

Pada 10 Januari 2020, Rupiah mengalami penguatan sebanyak 0,8%. Kenaikan ini terus terjadi setelah kesepakatan investasi yang terjadi antara Indonesia dengan Uni Emirat Arab, Softbank Group, Corp Jepang, dan US International Development Finance Corp.

Lantas bukan berarti rupiah adalah pertaruhan satu arah. Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo pada pekan lalu mengatakan bahwa kenaikan mata uang yang cepat dapat mengganggu ekspor dan melemahkan upaya untuk mengendalikan defisit neraca berjalan.

"Jika rupiah terapresiasi terlalu cepat, kita harus berhati-hati," ujar Jokowi.

Kemudian 24 dari 27 ekonom yang disurvei oleh Bloomberg memperkirakan Bank Indonesia akan menahan suku bunga. Sedangkan 3 ekonom memperkirakan pemotongan 25 basis poin menjadi 4,75%. Mata uang Rupiah pada tahun lalu kokoh di posisi ketiga podium, sedang di tahun ini rupiah nampak ditakdirkan di posisi teratas.

(kmj)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini