Ekonomi Dunia Melambat, Jokowi: Kerja Biasa-Biasa akan Sangat Berbahaya

Hairunnisa, Jurnalis · Kamis 30 Januari 2020 14:33 WIB
https: img.okezone.com content 2020 01 30 20 2160670 ekonomi-dunia-melambat-jokowi-kerja-biasa-biasa-akan-sangat-berbahaya-AJVHZYqitD.jpeg Presiden Jokowi Hadiri Perayaan Imlek Nasional "Bersatu Untuk Indonesia Maju". (Foto: Okezone.com/Setkab)

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan kondisi ekonomi dunia sekarang ini sedang melambat. Untuk itu dirinya meminta masyarakat untuk selain berdoa, harus selalu bekerja keras dan kerja cepat.

“Jadi kalau kita kerja biasa-biasa akan sangat berbahaya bagi ekonomi negara kita karena ekonomi dunia sekarang pada posisi yang memang menurun dan pada posisi yang tidak pasti,” ujar Presiden Jokowi, dilansir dari Setkab, Kamis (30/1/2020).

Baca Juga: Sejauh Mana Dampak Wabah Virus Korona ke Ekonomi Global?

Sebagai informasi, Dana Moneter Internasional atau IMF memangkas prediksi pertumbuhan ekonomi global, karena risiko mulai dari ketegangan perdagangan hingga perubahan iklim yang membuat ketidakpastian.

Menurut IMF, pertumbuhan ekonomi global tidak akan pulih pada tahun ini di mana terjadi pelambatan pada pasar negara berkembang seperti India diperkirakan lebih besar. Dengan demikian, IMF memperkirakann ekonomi global hanya tumbuh 3,3% atau lebih rendah dibandingkan proyeksi Oktober 2019 sebesae 3,4%.

Baca Juga: Ekonomi Dunia Masih Dibayangi Ketidakpastian, Ini Penjelasannya

Sementara itu, dalam sambutan pada Perayaan Imlek Nasional “Bersatu Untuk Indonesia Maju” di ICE BSD, Tangerang, Kepala Negara juga menyampaikan Selamat Hari Imlek di tahun 2020, Gong Xi Fa Cai. Dia menambahkan ucapan selamat memasuki tahun Tikus Logam di 2020.

“Shio saya kerbau, katanya tahun ini saya harus kerja keras. Padahal saya lima tahun kemarin sudah super kerja keras. Sekali lagi selamat memasuki tahun Tikus Logam di 2020,” ujar Presiden.

Pada kesempatan itu, Presiden menyampaikan bahwa semua patut bersyukur karena bisa berkumpul dari berbagai ragam marga dari keturunan Tionghoa. “Saya tahu di sini ada marga Tan, marga Oey, marga Gan, marga Pang, marga Lim, dan marga-marga yang lainnya yang tidak bisa saya sebut satu per satu karena saya tahu marga di keturunan tionghoa ini banyak sekali,” ujar Presiden.

Hal ini, menurut Presiden, sama dengan negara Indonesia yang sangat beragam, bermacam-macam suku, agama, etnis, yang hidup dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. “Saya senang pagi hari ini saya bisa memakai baju ini (red:cheongsam). Ketua panitianya pakai baju tradisional Jawa. Ini kan dibalik-balik. Menteri-menteri juga, silakan Pak Menteri coba, Pak Mensesneg, Pak Menko PMK. Pakai baju adat Tionghoa Pak Menko PMK tapi pakai peci,” tambah Presiden.

Kondisi yang beragam ini, menurut Presiden, tidak ada selain di Indonesia dengan keragaman 714 suku dan lebih dari 1.100 lebih bahasa daerah. “Ini yang patut kita syukuri bahwa meskipun kita beraneka ragam tetapi kita tetap satu sebagai saudara sebangsa setanah air yang hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tutur Presiden.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini