JAKARTA - Harga minyak naik sekitar 1% pada perdagangan kemarin. Harga minyak meninggalkan posisi terendah selama 13 bulan karena jumlah kasus virus korona melambat di China. Hal ini meredakan beberapa kekhawatiran atas potensi kehancuran permintaan minyak yang panjang.
Baca Juga: Ramalan IMF: Puncak Permintaan Minyak Global Terjadi di 2040
Korban tewas virus korona sudah melampaui 1.000, namun jumlah kasus baru yang dikonfirmasi turun. Epidemi ini mungkin sudah berakhir pada bulan April, kata penasihat medis pemerintah China.
Melansir Reuters, Rabu (12/2/2020), minyak mentah Brent LCOc1 ditutup pada USD54,01 per barel naik 74 sen atau 1,4%, setelah turun pada hari Senin ke level terendah sejak Januari tahun lalu di USD53,11. Minyak mentah West Texas Intermediate AS menetap di USD49,94 per barel naik 37 sen atau 0,8%.
Baca Juga: Virus Korona hingga Surplus Pasokan Diramal Tekan Harga Minyak 4 Bulan ke Depan
Investor tetap waspada bahwa permintaan minyak China dapat berkurang jika virus korona tidak dapat ditahan dan jika Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC +, gagal menyepakati langkah-langkah lebih lanjut untuk mendukung harga.
Virus korona telah mengurangi permintaan konsumen minyak terbesar kedua di dunia. Perusahaan penyulingan negara China berencana untuk memotong sebanyak 940.000 barel per hari (bph) atau hampir 1% dari permintaan dunia pada pemrosesan minyak mentah mereka pada bulan Februari.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.