Erick Thohir Ancam Tutup Perusahaan BUMN yang Tak Perform

Giri Hartomo, Jurnalis · Jum'at 21 Februari 2020 17:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 02 21 320 2172239 erick-thohir-ancam-tutup-perusahaan-bumn-yang-tak-perform-I9gF49xyQV.jpg Kementerian BUMN. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berencana untuk menutup beberapa perusahaan yang membebani negara alias sekarat atau dead weight. Tercatat ada sekitar 10 perusahaan yang akan ditutup.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir mengatakan, nantinya perusahaan plat merah ini akan ditertibkan. Ada beberapa cara yang disiapkan oleh Erick dari mulai ditutup alias dilikuidasi hingga di merger.

Hanya saja, Erick tidak menyebutkan perusahaan mana saja yang kan ditertibkan. Namun yang jelas perusahaan tersebut memiliki kinerja keuangan yang kurang baik.

Baca Juga: Erick Thohir Tinjau 10 BUMN Sekarat yang Mau Ditutup

Erick menyebutkan hanya dua perusahaan yang bakal dilikuidasi. Keduanya yaitu PT Garuda Tau beres yang merupakan anak perusahaan dari Garuda Indonesia selebihnya adalah PT PANN lantaran, perusahaan ini hanya memiliki 7 karyawan.

"Ya pokoknya kriterianya itu secara keuangan merosot, kompetitifnya berat atau sekarang bahkan yang mangkrak seperti lima anak perusahaan Garuda Indonesia yang siap di tutup ," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Jumat (21/2/2020).

Meskipun begitu lanjut Erick, pihaknya masih akan mempertimbangkan BUMN yang mana sekarat tapi bisa di selematkan. Adapun dengan penutupan ini akan bersifat transparan dan sesuai data.

Baca Juga: Cuma Miliki 7 Pegawai, BUMN Ini Bertahan Hidup dari Hotel

"Jadi kita ini transparan dan direksi dan komisaris saat dapat tim kita lagi ambil formula jangan hanya berdasarkan profit akhirnya revaluasi asset provit, cash enggak ada," kata Erick.

Menurut Erick, dalam menertibkan perusahaan nantinya akan dinilai oleh tim penilaian. Tim ini sendiri ini akan memantau perkembangan dari perusahaan BUMN yang berkinerja buruk.

"Ya ada timnya nanti yang mana hal itu direksi dan komisaris harus lebih tahu. Maka penting peran komisaris di pengawasan dan direksi di operasional. Jangan ke bolak balik, direksi enggak mau di awasi, komisaris mau ikut operasional," jelasnya.

(kmj)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini