JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mempertanyakan status Indonesia yang dikeluarkan dari daftar negara berkembang oleh Amerika Serikat. Sebagaimana diketahui, Kantor Perwakilan Perdagangan Amerika Serikat (USTR) mencoret Indonesia dari daftar negara berkembang dan memasukkan ke negara maju.
Menurut Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti, selama ini BI melihat pengelompokan negara maju dan berkembang berdasarkan penilaian World Bank atau IMF. Kedua lembaga tersebut menetapkan suatu negara maju atau berkembang berdasarkan pendapatan (income) per kapita.
Baca Juga: AS Keluarkan Indonesia dari Negara Berkembang, Ini 3 Kriteria Penyebabnya
"Kita tahu kalau mau jadi negara maju berpendapatan tinggi, income per kapita mencapai USD11.000-USD12.000 per tahun. Kita (Indonesia) masih USD4.000 per tahun," tuturnya, di Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (28/2/2020).
Sementara itu, US Trade menjadikan Indonesia sebagai negara maju berdasarkan jumlah penduduk sebesar 260 juta jiwa dan sudah masuk dalam kelompok-kelompok negara strategis seperti G20. Dengan melihat perbandingan penilaian dari World Bank, IMF dengan US Trade, maka bisa dinilai apakah Indonesia sudah layak jadi negara maju atau tidak.
Baca Juga: Dikeluarkan dari Negara Berkembang, Menkeu: Tak Ganggu Fasilitas GSP dari AS
"Di satu sisi tentu kita bersyukur ada yang sudah anggap kita maju. Tapi di sisi lain kita lihat masih banyak PR (pekerjaan rumah) yang harus dikerjakan. Kalau saya sih melihatnya ini tidak apa-apa punya pendapat seperti itu, tapi kita tetap harus fokus meningkatkan infrastruktur dan memperbaiki daya beli masyarakat," tuturnya.
Sebagai informasi, selain Indonesia, terdapat sejumlah negara yang juga dihapus AS dari daftar negara-negara berkembang, di antaranya Argentina, Brasil, China, Hong Kong, India, Malaysia, Singapura, Afrika Selatan, Korea Selatan, Thailand, Ukraina, hingga Vietnam.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.