Virus Korona Tekan Pertumbuhan Ekonomi Global, Begini Penjelasan OECD

Vania Halim, Jurnalis · Selasa 03 Maret 2020 15:54 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 03 20 2177491 virus-korona-bayangi-pelemahan-ekonomi-global-ke-level-terendah-sejak-krisis-2009-ncDSliFfQs.jpg Waspada Virus Korona. (Foto: Okezone.com/NBC News)

JAKARTA - Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (Organization for Economic Cooperation and Development/OECD) memprediksi virus korona akan membuat ekonomi dunia melemah atau terburuk sejak krisis keuangan global pada 2019. OECD pun menilai laju pertumbuhan ekonomi kemungkinan tercapai setengahnya dari target 2,9%.

OECD menyatakan tingkat pertumbuhan ekonomi dunia sebesar 2,9% ditetapkan pada tahun ini sebelum wabah korona meluas. Setelah virus itu menyebar ke berbeagai negar seperti Jepang, Korea Selatan hingga Eropam ekonomi bisa dalam resesi.

Baca Juga: Virus Korona Mengkhawatirkan, Bursa Saham di Seluruh Dunia Cemas

"Pembuat kebijakan di seluruh dunia harus bertindak sekarang untuk mencegah skenario itu," kata Kepala Ekonom OECD Laurence Boone, dilansir dari CNN, Jakarta, Selasa (3/3/2020).

Bahkan dalam skenario kasus terbaik, epidemi memuncak di China dalam kuartal pertama dan ekonomi global hanya akan tumbuh 2,4%. Perkiraan ini masih menjadi tingkat pertumbuhan terlemah sejak krisis keuangan global tahun 2009.

Baca Juga: Negara-Negara Perekonomian Terbesar sedang di Ambang Resesi

"Virus berisiko memberikan pukulan lebih lanjut pada ekonomi global yang sudah diturunkan oleh ketegangan perdagangan serta politik. Pemerintah perlu bertindak segera untuk mengatasi epidemi dalam mendukung sistem perawatan kesehatan, melindungi orang-orang yabf menopang permintaan dan menyediakan jalur finansial untuk rumah tangga dan bisnis yang paling berpengaruh," kata Laurence Boone.

Seperti diketahui, virus korona telah menewaskan lebih dari 3.000 orang serta lebih dari 88.000 kasus di seluruh dunia. Pasien kedua telah meninggal di Amerika Serikat dan kasus baru telah dilaporkan di Florida, New York, dan Pulau Rhode.

Banyak perusahan telah mengeluarkan peringatan dari laba dan penjual dalam beberapa minggu terakhir, yang mengakibatkan perubahan pada periaku konsumen yang menyebabkan gangguan di pasar. Pabrik-pabrik juga mengalami kesulitan agar tetap buka karena pembatasan perjalanan dan rantai pasokan.

Wakil Presiden Eksekutif dan Kepala Ekonom di Institut Kebijakan Bank Bill Nelson menerangkan bank-bank sentral dunia mungkin akan mengambil tindakan yang lebih dramatis dan memperkirakan pelonggaran terkoordinasi di bank-bank sentral utama.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini