Kisah Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Ini Sosok Ayah dan Ibu yang Menginspirasinya

Minggu 08 Maret 2020 11:01 WIB
https: img.okezone.com content 2020 03 08 320 2179944 kisah-kepala-bkpm-bahlil-lahadalia-ini-sosok-ayah-dan-ibu-yang-menginspirasinya-CukJ5hOhim.jpg Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. (Foto: Okezone.com)

Orang tua Bahlil Lahadalia tinggal di Fak Fak, Papua Barat. Dikutip dari laman Kemendikbud, ibunda Bahlil Lahadalia, Nurjani, menceritakan perjuangannya mendidik dan membesarkan delapan anak.

”Suami saya itu kuli bangunan, setiap hari mengaduk semen dan pasir. Karena sering mengisap serbuk semen dan debu, paru-parunya kena. Sembuh satu hari, 4 hari sakit, begitulah sampai meninggal tahun 2010 lalu,” kenang perempuan kelahiran Banda ini.

Nurjani kemudian membantu ekonomi keluarga dengan menjadi tukang cuci dan gosok di sekitar 8 rumah di Fak Fak. Perjuangan Nurjani kian berat sejak suaminya sakit-sakitan sehingga biaaya kehidupan harus ditanggungnya.

Jual Kue

Kala itu, Bahlil Lahadalia masih kuliah dan baru lulus tahun 2002, sedangkan adik-adiknya bersekolah, ada yang SD sampai SMA. ”Saya sekolahkan anak-anak sampai SMA. Saya minta kalau mau kuliah nyari uang sendiri, mama hanya bisa mendoakan,” ujar dia.

Dia mengaku upah sebagai tukang cuci gosok langsung dibagi-bagi untuk keperluan sekolah anak-anaknya. Untuk kebutuhan sehari-hari, Nurjani membuat aneka kue dan jajanan pasar.

Anak-anaknya diminta membantu membawanya untuk disimpan di warung sekolah dan warung-warung di pemukiman serta pasar. Dengan kondisi itu, sehari-harinya, tak jarang mereka hanya makan nasi dengan garam dan sedikit sayuran.

Untuk urusan pakaian, Bahlil Lahadalia dan saudaranya menggunakan pakaian secara turun temurun artinya pakaian untuk anak paling besar kemudian diwariskan kepada adik.

Begitu pula dengan perlengkapan sekolah seperti sepatu yang sangat terbatas. Bahkan, Bahlil Lahadalia dan keluarga punya istilah khusus yaitu sepatu aspal untuk sepatu yang alasnya sudah rusak sampai menginjak aspal.

Nurjani Ibunda Bahlil Lahadalia (Kemendikbud)

”Anak-anak saya sering bilang, mah, sepatunya sudah robek, saya bilang, enggak apa-apa, kan atasnya masih bagus, bawahnya kan enggak kelihatan,” kata Nurjani.

Nurjani bercerita keluarga Bahlil sejatinya bukan asli Fak Fak, Papua Barat. Nenek moyangnya berasal dari Sulawesi Tenggara namun merantau ke Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Kepindahan mereka ke Fak Fak terjadi saat terjadi erupsi Gunung Banda Api pada April 1988.

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini