nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kisah Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, Ini Sosok Ayah dan Ibu yang Menginspirasinya

Minggu 08 Maret 2020 11:01 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 03 08 320 2179944 kisah-kepala-bkpm-bahlil-lahadalia-ini-sosok-ayah-dan-ibu-yang-menginspirasinya-CukJ5hOhim.jpg Kepala BKPM Bahlil Lahadalia. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memberikan kepercayaan kepada Bahlil Lahadalia menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM). Sebelumnya, Bahlil dikenal sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi)

Karena kesuksesannya itu, Bahlil pun kerap dijadikan contoh tokoh muda yang sukses karena meniri karier dari nol dan berlatar belakang keluarga kurang mampu. Bahlil lahir di Papua dari keluarga yang penuh keterbatasan.

Baca Juga: Kelakar Bahlil di Depan Hary Tanoe: Virus Korona Tak Masuk Indonesia Karena Izinnya Susah

Ayah Bahlil, almarhum Lahadalia, adalah kuli bangunan dan ibunya, Nurjani, bekerja menjadi tukang cuci gosok di rumah-rumah tetangganya.

Bahlil Lahadalia adalah anak kedua dari delapan bersaudara. Dengan kehidupan seperti itu, orang tua Bahlil tidak pernah ada kata menyerah.

Di berbagai kesempatan, Bahlil mengakui keberhasilannya membangun bisnis tak lepas dari ajaran kedua orang tuanya.

“Bapak saya sosok yang bersahaja penuh tanggung jawab terhadap pekerjaan dan keluarga. Selain itu juga tegas dan displin. Sedang mamak saya mengajari mandiri, telaten dan kreatif,” ujar Kepala BKPM, dikutip dari Solopos, Minggu (8/3/2020).

Baca Juga: Wabah Korona Kian Mengglobal, Pasar Saham Dunia Jatuh

Walaupun orang tua tidak mampu memberikan nafkah berkecukupan semasa kecil, tapi nilai-nilai yang ditanamkan kepada dirinya agar selalu bersikap jujur, mandiri dan kreatif dapat menghantarkan dirinya membangun bisnis di Papua.

”Terwujudnya bisnis yang saya bangun berkat nilai-nilai orang tua yang ditanamkan sejak saya kecil,” jelas Bahlil.

Dengan segala keterbatasan ekonomi yang dimiliki, Bahlil dan tujuh saudaranya mampu menyelesaikan gelar kesarjanaan. Saat ini, sebagian menjalani profesi sebagai pegawai negeri dan guru.

Orang tua Bahlil Lahadalia tinggal di Fak Fak, Papua Barat. Dikutip dari laman Kemendikbud, ibunda Bahlil Lahadalia, Nurjani, menceritakan perjuangannya mendidik dan membesarkan delapan anak.

”Suami saya itu kuli bangunan, setiap hari mengaduk semen dan pasir. Karena sering mengisap serbuk semen dan debu, paru-parunya kena. Sembuh satu hari, 4 hari sakit, begitulah sampai meninggal tahun 2010 lalu,” kenang perempuan kelahiran Banda ini.

Nurjani kemudian membantu ekonomi keluarga dengan menjadi tukang cuci dan gosok di sekitar 8 rumah di Fak Fak. Perjuangan Nurjani kian berat sejak suaminya sakit-sakitan sehingga biaaya kehidupan harus ditanggungnya.

Jual Kue

Kala itu, Bahlil Lahadalia masih kuliah dan baru lulus tahun 2002, sedangkan adik-adiknya bersekolah, ada yang SD sampai SMA. ”Saya sekolahkan anak-anak sampai SMA. Saya minta kalau mau kuliah nyari uang sendiri, mama hanya bisa mendoakan,” ujar dia.

Dia mengaku upah sebagai tukang cuci gosok langsung dibagi-bagi untuk keperluan sekolah anak-anaknya. Untuk kebutuhan sehari-hari, Nurjani membuat aneka kue dan jajanan pasar.

Anak-anaknya diminta membantu membawanya untuk disimpan di warung sekolah dan warung-warung di pemukiman serta pasar. Dengan kondisi itu, sehari-harinya, tak jarang mereka hanya makan nasi dengan garam dan sedikit sayuran.

Untuk urusan pakaian, Bahlil Lahadalia dan saudaranya menggunakan pakaian secara turun temurun artinya pakaian untuk anak paling besar kemudian diwariskan kepada adik.

Begitu pula dengan perlengkapan sekolah seperti sepatu yang sangat terbatas. Bahkan, Bahlil Lahadalia dan keluarga punya istilah khusus yaitu sepatu aspal untuk sepatu yang alasnya sudah rusak sampai menginjak aspal.

Nurjani Ibunda Bahlil Lahadalia (Kemendikbud)

”Anak-anak saya sering bilang, mah, sepatunya sudah robek, saya bilang, enggak apa-apa, kan atasnya masih bagus, bawahnya kan enggak kelihatan,” kata Nurjani.

Nurjani bercerita keluarga Bahlil sejatinya bukan asli Fak Fak, Papua Barat. Nenek moyangnya berasal dari Sulawesi Tenggara namun merantau ke Kepulauan Banda, Maluku Tengah. Kepindahan mereka ke Fak Fak terjadi saat terjadi erupsi Gunung Banda Api pada April 1988.

Bahlil Berprestasi di Sekolah

Dia pun berkisah tentang masa kecil Bahlil. Nurjani mengisahkan Bahlil selalu berprestasi di sekolah dan punya semangat untuk maju. Saat masih SD, Bahlil membantu orang tua berjualan kue dan saat SMP sampai SMK menjadi kernet angkutan kota di Fak Fak.

”Sekolahnya kan siang, pagi harinya jadi kenek angkot. Pulang sekolah kembali jadi kenek sampai jam 10 malam, “kata Nurjani bangga.

Kini Bahlil menjadi salah satu pengusaha muda yang memiliki sejumlah usaha. Menurut dia, Bahlil yang memulai mengangkat derajat orang tua dan adik-adik serta kakaknya. Setelah lulus kuliah dan bekerja, Bahlil yang membiayai kuliah kakak dan adik-adiknya.

Kepala BKPM ini juga membiayai pernikahan adik-adiknya termasuk memberangkatkan orang tuanya pergi berhaji ke Tanah Suci dan membangunkan rumah orang tua. Bahlil Lahadalia mengaku beruntung dibesarkan dari keluarga yang pantang menyerah.

Dia menyebut saat orang tua menyuruhnya ikut berjualan kue adalah nilai awal penanaman daya juang. ”Saya pikir apa yang diajarkan ibu dan bapak itu bukan menyiksa anak-anak dengan disuruh cari uang sejak kecil, tapi merupakan penanaman daya juang. Dengan jualan kue, mental bisnis dan mental penguaha saya sudah diuji,” kata dia di laman Kemendikbud

Bahlil Lahadalia yang sempat memimpin Hipmi pada 2015-2018 kini mengoordinasi penanaman modal alias investasi dengan menjadi Kepala BKPM.

1
3
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini