nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kondisi Fundamental Ekonomi Indonesia DInilai Rapuh Hadapi Virus Corona

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 24 Maret 2020 21:42 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 03 24 20 2188534 kondisi-fundamental-ekonomi-indonesia-dinilai-rapuh-hadapi-virus-corona-lOYPoAAU7s.jpg Rupiah (Shutterstock)

JAKARTA - Virus corona mulai menekan perekonomian Indonesia. Hal ini terbukti dari mulai melemahnya nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang anjlok.

Pengamat Ekonomi INDEF Bhima Yudhistira mengatakan, kondisi fundamental Indonesia saat ini tergolong rapuh. Sehingga adanya virus corona ini bisa menggoyang ekonomi Indonesia.

 Baca juga: Jaga Daya Beli Masyarakat, Presiden Jokowi Fokus Bantuan Langsung

"Kondisi fundamental ekonomi rapuh," ujarnya saat dihubungi Okezone, Selasa (24/3/2020).

Menurut Bhima, salah satu bukti dari rapuhnya ekonomi Indonesia adalah dengan terbatasnya Cadangan Devisa Indonesia. Perbandingan cadangan devisa terhadap PDB Indonesia menurut data CEIC per 2019 adalah 10,9% dan trennya terus alami penurunan.

Sementara Rasio cadangan devisa terhadap PDB Malaysia 27,2%, Thailand 39,4%, dan Filipina 21,7%. Artinya dibandingkan negara lain di Asean, Indonesia paling kecil amunisi Bank sentral untuk menjaga stabilitas kurs rupiah.

"Amunisi untuk menahan pelemahan kurs terhadap dollar AS salah satunya melalui cadangan devisa sangat terbatas," kata Bhima.

Sementara itu, porsi industri manufaktur juga terus mengalami penurunan. Berdasarkan data per 2019, industri manufaktur hanya tumbuh 19,7%.

"Porsi industri manufaktur terus mengalami penurunan dimana per 2019 hanya 19.7%. Deindustrialisasi ini membuat tulang punggung utama ekonomi lebih rapuh dibandingkan 1998 dimana porsi manufaktur berada diatas 25%," jelasnya.

Selain itu lanjut Bhima, saat ini surat utang pemerintah juga 28,5%nya dikuasai oleh investor asing. Aliran hot money yang deras di pasar surat utang jika berbalik arah akan timbulkan shock bagi rupiah.

Selain itu lanjut Bhima, ruang fiskal juga mengalami penyempitan. Selain itu, defisit anggaran juga melebar, sementara rasio pajak berada di bawah 10%.

"Ini menunjukkan peluang pemerintah lakukan stimulus sangat kecil dibandingkan kebutuhan riil ekonomi keseluruhan," jelasnya.

Kemudian lanjut Bhima defisit transaksi berjalan juga terus melebar hingga sebesar 2,7% pada 2019. Padahal, defisit transaksi berjalan menjadi tolak ukur penting dalam ketergantungan valas suatu negara.

"CAD yang melebar artinya kebutuhan valas makin meningkat, tapi tidak di imbangi pemasukan dari ekspor, pendapatan primer maupun jasa lainnya," kata Bhima.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini