Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Lifting Migas Capai 90% pada Kuartal I

Giri Hartomo , Jurnalis-Kamis, 16 April 2020 |20:10 WIB
Lifting Migas Capai 90% pada Kuartal I
Harga Minyak (Foto: Ilustrasi Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan realisasi produksi minyak dan gas bumi pada kuartal I-2020 mencapai 1,749 juta barel setara minyak per hari. Capaian lifting migas ini baru mencapai sekitar 90,4% dari target APBN sebesar 1,946 juta barel setara minyak per hari.

Kepala SKK Migas Diw Soetjipto mengatakan, capaian lifting minyak pada kuartal I 2020 baru tercapai rata-rata 701,6 ribu bph. Capaian ini baru 92,9% dari target APBN sebesar 755 ribu bph.

Sementara untuk capaian lifitng gas bumi sebesar 5.866 MMSCFD. Angka ini setara dengan 87,9% dari target APBN 6.670 MMSCFD.

 Baca Juga: Harga Minyak Anjlok Lagi, WTI Dibanderol USD20,1/Barel

"Produksi dan lifting sampai kuartal I dengan adanya WFH minyak kita dapat 728,8 ribu bph. gas 7,118 juta mmscfd," ujarnya dalam telekonferensi, Kamis (16/4/2020).

Menurut Dwi, lifting minyak pada Maret 2020 memang ada sedikit gangguan. Hal ini menyusul adanya virus corona sehingga membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan Work From Home.

"Untuk lifting minyak di akhir Maret memang karena kendala dalam loading maupun pengecekan lifting dengan adanya pembatasan-pembatasan, work from home dan sebagainya kita masih menyisakan stok," jelasnya.

Baca Juga: Kesepakatan OPEC Pangkas Produksi Tak Buat Harga Minyak Naik

Menurut Dwi, penyebaran virus corona yang makin meluas membuat kinerja lifting minyak dan gas nasional bakal tak tercapai. Penyebabnya karena harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, dan konsumsi minyak mentah anjlok.

Rendahnya harga minyak sejak Februari 2020 yang kemudian dibarengi oleh penyebaran virus Covid-19 mulai mempengaruhi kegiatan hulu migas, baik di operasional, pelaksanaan proyek maupun penyerapan gas.

Pada kegiatan operasional hulu migas, pencegahan penyebaran COVID-19 membuat transportasi material dan inspeksi kinerja peralatan atau fasilitas lebih lama, produktivitas engineering dan konstruksi menjadi lebih rendah karena pergerakan tenaga kerja yang terbatas.

Selain itu, persetujuan pengurusan perijinan juga memakan waktu yang lebih lama. Akibatnya, semua kegiatan harus menyesuaikan kondisi yang dihadapi.

Sebagian aktivitas operasional seperti planned shutdown, pengeboran, kerja ulang dan perawatan sumur mengalami penundaan. Proyek-proyek mengalami pelambatan dibanding sebelumnya. Contohnya, Proyek Marakes yang mundur dari September 2020 ke tahun 2021 karena pengadaan barang dan tenaga penunjang dari Italy oleh Eni terhambat.

“Penyerapan gas oleh para pembeli juga berkurang akibat menurunnya permintaan,” kata Dwi.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement