Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dolar AS Melemah Usai Investor Merespons Hasil Positif Uji Coba Obat Pasien Covid-19

Taufik Fajar , Jurnalis-Sabtu, 18 April 2020 |07:04 WIB
Dolar AS Melemah Usai Investor Merespons Hasil Positif Uji Coba Obat Pasien Covid-19
Dolar Amerika Serikat. (Foto: Okezone.com)
A
A
A

NEW YORK  - Kurs dolar Amerika Serikat berakhir melemah pada perdagangan  Jumat, karena investor merespons positif  tentang hasil uji coba obat untuk penanganan pasien virus Corona oleh  Gilead Sciences Inc (GILD.O).

Selain itu, investor juga sedang menantikan rencana Presiden Donald Trump untuk membuka kembali perekonomian. Dengan sentimen tersebut, selera investasi pun kembali ke aset yang berisiko.

Sentimen didorong oleh laporan data parsial soal uji coba obat eksperimental pada pasien Covid-19 yang sakit parah di Rumah Sakit University of Chicago. Pasien itu merespons secara positif obat eksperimental remdesivir.

Baca Juga: Dolar Menguat karena Data Pengangguran AS Meningkat

Kemudian rencana Presiden Trump untuk membuka kembali ekonomi terbesar di dunia itu direspons baik oleh investor sebagai tanda positif. Bahkan setelah data pengangguran menunjukkan rekor sebanyak 22 juta orang Amerika.

Maka dari itu, dolar AS pun tertekan, dengan indeks turun 0,08%. Aset safe-haven lainnya seperti yield Treasury lebih rendah, sementara indeks S&P 500 .SPX menguat 1,8%.

Dolar juga jatuh terhadap euro dan pound Inggris. Namun menguat terhadap yen Jepang dan franc Swiss.

"Saya pikir ada optimisme umum hari ini sehingga dolar menurun. mengambil kursi belakang yang sederhana. Tapi secara keseluruhan, dolar akan tetap menjadi raja dalam beberapa bulan mendatang. Bahkan ketika kita keluar dari dolar tertinggi bulan lalu, itu akan tetap kuat secara historis," " kata Wakil Presiden Tempus John Doyle, dilansir dari Reuters, Sabtu (18/4/2020).

Ketika dolar jatuh, euro naik 0,30%. Sebelumnya Euro telah turun sekitar 1,46% terhadap dolar bulan ini atau menghadapi penurunan bulanan terbesar sejak Juli tahun lalu.

“Status EUR mungkin telah berevolusi sejak wabah Covid-19, ke depan, kami bearish. Ini karena kami memperkirakan data Eropa akan terpisah lebih jauh dari data AS, dan itu sebagian disebabkan oleh kurangnya respons fiskal Eropa yang terkoordinasi,” tulis Ahli Strategi Bank of America.

(Feby Novalius)

Ekonomi Okezone menyajikan berita ekonomi terkini dan terpercaya. Dapatkan wawasan tentang tren pasar, kebijakan ekonomi, dan pergerakan finansial di Indonesia dan dunia.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita finance lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement