Dolar Menguat karena Data Pengangguran AS Meningkat

Taufik Fajar, Jurnalis · Jum'at 17 April 2020 07:23 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 04 17 278 2200508 dolar-menguat-karena-data-pengangguran-as-meningkat-IIbBDbk7Mn.jpg Dolar Amerika Serikat. (Foto: Okezone.com)

NEW YORK - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) mencapai level tertinggi pada akhir perdagangan Kamis. Investor kembali lagi beralih pada aset safe haven seperti dolar,  setelah rilis data pengangguran mingguan AS meningkat.

Tercatat sudah 22 juta orang Amerika mengajukan tunjangan pengangguran pada bulan lalu. Jumlah tersebut menjadi rekor dan menggarisbawahi bahwa virus Corona harus segera dikendalikan.

Dolar naik 0,45% menjadi 100,08 atau menyentuh level tertinggi dalam satu minggu terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya. Sebelumnya dolar mengalami penurunan beruntun selama empat hari karena kenaikan pasar ekuitas meleset.

Baca Juga: Investor Kembali ke Dolar Setelah Data Ekonomi AS Menurun

Terhadap Euro, dolar menguat 0,72% menjadi USD1,083, karena setengah triliun euro untuk mendukung negara-negara melalui wabah corona dipandang sebagai tidak cukup, apalagi untuk sarat utang Italia.

Yen melemah 0,25% terhadap dolar, karena Jepang memperpanjang keadaan darurat di luar kota-kota besar ke seluruh negara.

Klaim awal untuk tunjangan pengangguran turun 1,370 juta menjadi 5,245 juta yang disesuaikan secara musiman untuk pekan yang berakhir 11 April. Penurunan ekonomi ditambah usai penjualan ritel, aktivitas pabrik dan harga minyak menurun ke posisi terendah.

"Dolar bernasib lebih baik minggu ini karena catatan data yang lemah menyarankan jalan yang lebih lama dan lebih tidak pasti untuk pemulihan. Pandangan yang lebih suram membangkitkan kembali selera untuk aset yang lebih aman," kata Analis Pasar Senior Western Union Business Solutions Joe Manimbo, dilansir dari Reuters, Jumat (17/4/2020).

Greenback telah naik selama krisis karena investor berebut untuk keselamatan mata uang cadangan dunia, meskipun turun dari levwl tertinggi sejak akhir Maret karena kebijakan Federal Reserve AS mengeluarkan serangkaian langkah-langkah untuk mendukung perekonomian.

"Dalam jangka pendek, dolar diperkirakan akan tetap kuat karena statusnya sebagai safe-haven dan karena situasi ekonomi global tetap tidak menentu," kata Ketua Goldman Sachs Asset Management Andrew Wilson.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini