Investor Kembali ke Dolar Setelah Data Ekonomi AS Menurun

Giri Hartomo, Jurnalis · Kamis 16 April 2020 07:53 WIB
https: img.okeinfo.net content 2020 04 16 278 2199911 investor-kembali-ke-dolar-setelah-data-ekonomi-as-menurun-upQlfHO3I1.jpg Kurs Dolar AS Menguat. (Foto: Okezone.com)

NEW YORK - Kurs dolar Amerika Serikat (AS) kembali naik, usai investor meninggalkan aset berisiko. Hal ini terjadi setelah data AS menggarisbawahi bahwa kekhawatiran turunnya ekonomi global akibat wabah corona akan berlarut-larut.

Indeks dolar AS, yang telah jatuh selama empat hari ini, akhir menguat 0,71%. Obligasi AS, obligasi safe haven tradisional lainnya, memperlihatkan imbal hasil jatuh karena permintaan utang mendorong harga lebih tinggi.

Baca Juga: Dolar AS Tergelincir karena Investor Kembali ke Pasar Berisiko

Terhadap safe-havens tradisional lainnya, dolar naik tipis 0,31. Kemudian terhadap yen Jepang dan franc Swiss, dolar naik 0,47%.

Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa penjualan ritel AS mengalami penurunan atau menjadi rekor pada Maret, karena kewajiban penutupan bisnis untuk mengendalikan penyebaran wabah corona, menekan permintaan barang.

Baca Juga: Usai Libur Paskah, Dolar AS Melemah Tipis

Federal Reserve New York juga melaporkan bahwa indeks manufaktur Empire State, yang mencatat aktivitas di sektor negara bagian New York, jatuh ke level terendah sepanjang masa.

"Laporan semalam IMF, yang menurunkan pertumbuhan global lebih dari yang diharapkan, bersama dengan rekor penurunan penjualan ritel AS, dan penurunan besar dalam produksi industri AS. Semua digabungkan dan investor terburu-buru ke safe-haven USD," tulis Analis, dilansir dari Reuters, Kamis (16/4/2020).

Sebelumnya, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi global akan menyusut 3% selama tahun ini. Penurunan aktivitas ekonomi akan menandai penurunan tertajam sejak Depresi Hebat tahun 1930-an.

Selain itu, penurunan harga minyak dengan ekspektasi bisa diangkat dengan pengurangan produksi oleh OPEC ternyata tidak cukup untuk mendukung minyak mentah. Sebab, selama ini terjadi krisis permintaan global.

Bank of Canada menyampaikan bahwa wabah corona akan memicu kemerosotan ekonomi terbesar Kanada dalam waktu dekat. Bank sentral mempertahankan suku bunga stabil di 0,25% seperti yang diharapkan, menambahkan obligasi provinsi dan perusahaan ke program pelonggaran kuantitatif, dan mengatakan "siap untuk menyesuaikan skala atau durasi programnya jika perlu.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini