Sri Mulyani Sebut Ekonomi Dunia Merosot Sangat Tajam di 2020

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 12 Mei 2020 17:57 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 12 320 2213021 sri-mulyani-sebut-ekonomi-dunia-merosot-sangat-tajam-di-2020-fChWl8BT4y.jpg Menteri Keuangan Sri Mulyani (Okezone)

JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani mengatakan dampak pandemi virus corona atau Covid-19 terlihat nyata melalui berbagai indikator. Pertumbuhan ekonomi global diproyeksikan akan merosot sangat tajam dan mengalami resesi di tahun 2020.

Menurutnya, pada bulan Januari 2020, IMF masih optimis dengan proyeksi ekonomi global di tahun 2020 yang akan tumbuh 3,3%, namun pada bulan April 2020 - akibat Covid-19, proyeksi dikoreksi tajam menjadi minus 3,0%. Artinya proyeksi ekonomi dunia mengalami kemerosotan lebih dari 6% potensi output yang hilang ini lebih besar dari perekonomian Jepang.

 Baca juga: Sri Mulyani: Semua Ambil Pelajaran pada Negara Sukses Tangani Virus Corona

"Pada kuartal I 2020, berbagai negara telah mengalami pertumbuhan negatif: China -6,8%, Perancis -5,4%, dan Singapura -2,2%. Indonesia masih tumbuh positif 2,97%, meski ini juga merupakan koreksi yang cukup tajam," ujar dia dalam Rapat Paripurna RAPBN 2021 di Gedung DPR RI Jakarta, Selasa (12/5/2020).

Dampak dari resesi global, banyak masyarakat yang tidak bisa bekerja dan terancam kehilangan sumber pendapatannya. Jika tidak diantisipasi dengan segera, kondisi ini akan menjalar ke sektor keuangan, meningkatkan kredit bermasalah atau bahkan berpotensi mengganggu stabilitas sistem keuangan.

"Untuk mencegah hal tersebut, seluruh dunia mengambil langkah-langkah luar biasa untuk menyelamatkan manusia dan perekonomian. Stimulus fiskal dalam jumlah yang sangat besar disiapkan," ungkap dia.

 Baca juga: Pandemi Covid-19, Masuk ke Sendi-Sendi Kehidupan Ekonomi hingga The New Normal

Dia menjelaskan Singapura, Amerika Serikat, dan Malaysia telah mengeluarkan stimulus dan dukungan fiskal yang mencapai lebih dari 10 persen PDB-nya. Langkah kebijakan di berbagai negara dapat dikelompokkan dalam empat kategori yaitu, penanganan langsung dampak Covid-19 di sektor kesehatan.

"Lalu perluasan social safety net, stimulus untuk membantu pemulihan dunia usaha, dan perlindungan terhadap stabilitas sistem keuangan," jelas dia.

Situasi pandemi dan ketidakpastian yang tinggi mengharuskan pemerintah untuk mempersiapkan beberapa skenario perkembangan ekonomi ke depan. Pertumbuhan ekonomi kuartal I yang hanya sebesar 2,97% menunjukkan telah terjadi koreksi yang cukup tajam.

"Hal ini mengindikasikan tekanan lebih berat akan dialami sepanjang tahun 2020, yang artinya pertumbuhan ekonomi terancam bergerak dari skenario berat sebesar 2,3% menuju skenario sangat berat yaitu kontraksi -0,4%. Untuk itu, langkah dan kebijakan penanganan pandemi Covid-19 dan dampak sosial," tandas dia.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini